Shera membaca kembali cerpen yang baru dibuatnya. Menurutnya, ini ide yang tidak masuk akal dan tidak akan berhasil. Tidak masuk akal, karena 'menyatakan perasaan' lewat cerita adalah cara yang sangat kuno dan kekanakan. Tidak akan berhasil, karena orang itu tidak mungkin membaca ceritanya. Tentu saja. Seorang Erga Prasetya yang sangat serius, mustahil membaca majalah remaja. "Namanya juga usaha, Sher. Ga ada salahnya kan?" Begitu kata Fara ketika Shera menyatakan bahwa idenya itu mustahil untuk dilaksanakan. "Lagipula, Erga belum tentu sadar sama kode lo yang minimalis itu. Plis deh Sher, ini tuh jamannya perempuan yang maju duluan!" Ucap Fara dengan berapi-api. Shera menatap layar laptopnya. Ia hanya butuh menekan tombol send, dan cerita setengah curhatnya itu akan muncul di majalah Aksara minggu depan. Shera menimbang - nimbang. Ya, tidak. Ya, tidak. Benar kata Fara. Erga belum tentu sadar kalau yang ia ceritakan disitu adalah dirinya....
What I think about everything