Skip to main content

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi.
Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu.
“Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku.
Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya.
“Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya.
Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami.
Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara datang. Saat itu Ara belum setinggi ini. Tingginya hanya setengah tinggiku. Rambutnya diikat pita berwarna merah. Ia membawa boneka berwarna coklat.
“Ayah, ini kamarku?” tanya Ara pada laki-laki tinggi besar di belakangnya.
Laki-laki itu mengangguk. Kulihat Ara berjalan ke arahku dan menghapus sebagian kecil debu yang menempel di tubuhku.
“Aku cantik kan?” tanya Ara sambil menatapku.
Sekali lagi, laki-laki itu mengangguk. “Kamu cantik sayang, seperti ibumu” ucapnya.
Samar-samar kulihat Ara tersenyum.
Lamunanku buyar saat kulihat laki-laki berseragam sama dengan Ara di jendela rumah seberang sedang memandanginya. Ara benar. Dia bukan anak kecil lagi.

Ara duduk lagi dihadapanku. Ia memandangiku.
“Elina, mengapa semua orang menganggapku aneh?” tanyanya padaku.
Aku tidak menjawab.
“Tidak ada yang mau berteman denganku. Kata mereka aku ini gila,”
Aku tidak menjawab lagi.
“Elina, kamu tidak pernah menjawabku. Pasti kamu juga berpikir bahwa aku ini aneh kan?” tanyanya lagi.
Tidak. Aku tidak menganggapmu aneh, Ara. Kamu teman yang baik, ucapku pada diri sendiri.
“Kita teman, kan?” gumam Ara lagi.
Sekali lagi, aku tidak menjawabnya.
“Setiap kali aku berbicara padamu, semua orang langsung menjauhiku. Kelihatannya mereka tidak suka padamu, ya? Mereka tidak mengenalmu, makanya mereka tidak suka padamu. Kamu teman yang baik, kamu selalu ada dimanapun aku membutuhkanmu. Oh, wajah kita juga mirip, kan? Ayah bilang kita bagai pinang dibelah dua. Aku sayang padamu, Elina. Jangan pernah tinggalkan aku, ya? Jangan tinggalkan aku seperti Ibu pernah meninggalkanku. Jangan jauhi aku seperti orang-orang lainnya ya?”
Ara terus berbicara tanpa henti. Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Laki-laki yang bernama ‘ayah’ masuk.
“Waktunya makan malam” ucap Ayah
“Ayah, Elina boleh makan bersama kita?” tanya Ara
Si Ayah mengeryitkan kening.
“Boleh, kalau dia mau” jawabnya.
“Elina, kamu mau makan bersama kami?” tanya Ara padaku.
Aku tidak menjawab.
“Dia tidak lapar” ucap si Ayah.
Ara tampak kecewa. Ia mengikuti Ayah keluar pintu, kemudian menutupnya.
Sementara itu, laki-laki di jendela rumah seberang tampak tersenyum.

Matahari hampir terbenam, namun Ara belum masuk ke kamar. Mungkinkah ia belum pulang? Biasanya saat begini dia sedang berbicara padaku. Ini aneh. Aku melihat ke jendela rumah seberang. Laki-laki itu sedang berjalan mondar-mondir. Sesekali Ia berhenti berjalan dan melongok ke arahku. Tidak. Maksudnya, ke kamar Ara. Mungkinkah Ia juga sedang menunggu Ara? Tapi untuk apa? Ara tidak mengenalnya. Ara tidak pernah berbicara dengannya, jadi untuk apa dia memperhatikan Ara setiap hari? Pintu kamar terbuka. Itu Ara. Ia masih memakai seragam putih abu-abunya. Wajahnya tampak kelelahan. Ia melempar tasnya ke tempat tidur.
“Elina, sekolah itu menyebalkan” ucap Ara padaku. Ia memandangku sambil cemberut.
“Bagaimana sekolahmu? Ah, kamu baru pulang juga? Wajahmu tampak lelah. Apa guru-guru memberimu tugas yang banyak?” tanyanya.
“Ah, ada yang ingin kuceritakan padamu. Ada seseorang, dia kakak kelasku. Dia bilang rumahnya dekat dengan kita, tapi aku belum pernah melihatnya. Dia bilang ia sering melihatku berbicara sendiri. Aneh, ya? Oh ya, dia juga ingin berkunjung ke sini, ingin bertemu denganmu. Bagaimana menurutmu? Aku senang melihat matanya. Matanya indah. Melihat matanya rasanya seperti sedang memeluk Ibu. Hangat. Menyenangkan. Dia satu-satunya orang yang mengajakku bicara di sekolah. Hebat kan?”
Aku tidak lagi fokus mendengarkan Ara. Aku kembali menatap jendela di rumah seberang. Laki-laki itu masih di sana. Memandangi Ara

Hari – hari berikutnya, yang dibicarakan Ara hanyalah Mahesa.
“Namanya Mahesa, bagus ya? Tapi semua orang di sekolah memanggilnya Bojes. Menurutku itu aneh. Aku lebih suka memanggilnya Mahesa. Dia baik padaku. Elina, kurasa dia bisa menjadi teman yang baik. Kamu mau berkenalan dengannya? Aku bercerita padanya tentang kita, dan dia mendengarkan. Tidak seperti yang lain. Setiap kali aku bercerita tentangmu pada teman-teman yang lain, mereka pasti tertawa dan memanggilku gila. Mereka salah, kan? Mahesa tidak begitu. Dia mendengarkanku, seperti kamu selalu mendengarkanku. Lain kali aku akan membawanya kesini supaya kamu bisa melihatnya. Kamu pasti menyukainya”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tidak pernah bicara padaku, Elina. Tidak seperti Mahesa. Dia bicara padaku. Dia selalu menjawab semua pertanyaanku. Dia bercerita padaku kalau dia senang bermain gitar. Hebat ya? Dia juga bisa bernyanyi. Suaranya bagus sekali, Elina.Ah, dia juga pernah memberi sesuatu untukku”
Ara berdiri dan berjalan menuju tasnya. Langkahnya terhenti di depan jendela. Laki-laki di jendela seberang tampak terjejut.
“Mahesa?”
Aku tidak bisa melihat ekspresi Ara karena ia berdiri memunggungiku. Untuk sesaat Ara tidak beranjak dari tempatnya. Hanya sesaat. Sesaat kemudian ia melambai, dan hanya dalam sesaat ia melesat keluar kamar.
Aku terkesima. Apa yang barusan terjadi? Ara hanya melihat laki-laki itu sekilas dan ia sudah meninggalkanku. Aku melihat ke jendela di rumah seberang. Laki-laki itu, sama seperti Ara, menghilang dalam sesaat.

“Nah, Mahesa. Perkenalkan. Ini Elina”
Aku tidak percaya. Laki-laki itu ada di kamar Ara. Mahesa tampak bingung. Tentu saja, siapapun yang Ara perkenalkan padaku pasti akan bingung. Lalu pergi. Lalu malamnya Ara akan menangis. Selalu seperti itu.
“Ara, ini kan …”
Mahesa tidak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Ara. Ara menatap Mahesa, kemudian menatapku.
“Ini Elina” ucap Ara lagi.
“Aku tidak melihat siapapun kecuali dirimu” ucap Mahesa.
Ara menarik tubuh Mahesa. Kini Mahesa berdiri tepat di depanku.
“Itu Elina. Di depanmu” ucap Ara lagi.
“Ara, itu aku. Yang berdiri didepanku adalah bayanganku”
“Bukan, itu Elina”
“Tapi ...”
“Itu Elina”
“Itu bayanganku!”
Ara melihat ke arahku.
“Itu, yang sedang melihatku. Itu Elina”
Mahesa menatap Ara.
“Yang sedang melihatmu adalah bayanganmu sendiri, Ara”
“Bukan, itu Elina. Wajah kami memang mirip”
Mahesa kelihatan menyerah.
“Halo, Elina” ucapnya dengan terpaksa.
Ara tersenyum.
“Kamu bercanda kan? Itu bukan benar-benar Elina kan?” tanya Mahesa.
“Tidak. Itu Elina. Wajah kami memang mirip, Kata Ayah Elina mirip sekali dengan Ibuku” ucap Ara. Ia duduk di depanku.
“Aku tidak pernah melihat Ibumu”
“Dia pergi”
“Pergi kemana?”
“Dia pergi dan belum kembali”
“Pergi kemana?” Mahesa mengulang pertanyaannya.
“Meninggal” jawab Ara.
Sunyi. Ada jeda hening yang lama.                                               
Mahesa menatap Ara. Ada sesuatu di tatapannya. Meskipun aku belum pernah merasakannya, tapi aku tahu itu sesuatu yang membuat Ara betah berlama-lama dengannya.
“Maaf” ucapnya kemudian.

Malam ini Ara kembali duduk di hadapanku.
“Mahesa baik ya? Dia mau menyapamu. Elina, aku tidak mengerti. Aku merasa nyaman saat ia didekatku. Ini aneh. Biasanya aku hanya merasa nyaman saat seperti ini, saat berbicara denganmu. Kamu tahu apa artinya ini?” tanya Ara
“Itu artinya kamu sudah besar, sayang”
Ara menengok ke asal suara. Ayah.
“Mahesa ya? Tetangga sebelah kan?” tanya Ayah.
Ara mengangguk.
“Tadi dia main kesini?” tanya Ayah lagi.
Ara mengangguk lagi.
“Dia ingin bertemu Elina” gumam Ara
Ayah tampak terkejut.
“Lalu bagaimana tanggapannya tentang Elina?”
Ara tampak berpikir sesaat.
“Awalnya ia merasa aneh. Tapi kemudian dia menyerah dan menyapa Elina”
Aneh. Tentu saja semua merasa aneh saat menyapaku. Itu wajar. Yang tidak wajar justru sikap Ara padaku. Ara tidak seharusnya bersikap begitu baik padaku. Seharusnya Ara memperlakukanku seperti manusia lainnya. Tiba-tiba aku teringat dengan percakapan Ara dan Mahesa tadi. Ibu sudah meninggal ya? Seperti apa wajah Ibu itu? Kalau ia mirip denganku, berarti ia juga mirip dengan Ara. Meninggal itu artinya pergi kemana? Bagaimana rasanya ditinggalkan Ibu? Aku tidak punya Ibu. Aku tidak punya Ayah. Diduniaku semuanya disebut sama. Yang tertempel di dinding, lemari, yang berukir kayu ataupun yang kecil dan sering dibawa kemana-mana. Semuanya punya nama yang sama : Cermin.

Fokusku kembali lagi ke pembicaraan Ara dan Ayah.
“Kamu suka ya sama Mahesa?” goda Ayah.
Ara tersenyum. Ada rona merah di pipinya.
“Ya. Tidak. Mungkin ya, mungkin tidak. Aku tidak tahu, yah. Aku belum pernah merasakan hal-hal seperti ini sebelumnya” jawab Ara.
Ayah tersenyum. Ara ikut tersenyum. Tiba-tiba Ayah masuk ke kamar dan duduk disebelah Ara.
“Ara, ada yang harus Ayah katakan. Penting”
Ara mengubah posisi duduknya. Kini ia berhadap-hadapan dengan ayah.
“Kemarin malam Ibumu kesini” ucap Ayah
Ara tidak menanggapi. Matanya kini memandangku.
“Dia sudah mati”
“Dia datang dengan keluarganya yang baru. Dia minta maaf. Dia bilang bahwa dia merindukanmu. Dia ingin bertemu denganmu, Ara”
“Dia sudah mati. Mayatnya sudah terkubur. Ara tidak lagi punya seorang Ibu. Ara cuma punya Ayah, dan Elina”
“Ara, dia itu tetap Ibumu”
“Dia tidak pernah punya waktu untukku. Dia selalu sibuk, sibuk, sibuk, tidak pernah mau mendengarkanku. Lalu dia pergi, tanpa berpikir bagaimana perasaanku nantinya. Dia bilang aku tidak membutuhkannya lagi, dia bilang anaknya yang lain saat ini sedang membutuhkannya. Dia bilang setelah kembali dia akan menjadi Ibu yang baik. Aku menunggunya kembali, yah. Aku tidak pernah bosan menunggunya. Tapi dia tidak pernah kembali, kan?”
Air mata mengalir di pipi Ara. Ayah memegang pundaknya.
“Dia kembali. Kemarin malam dia kembali untukmu. Dia ingin kamu tinggal dengannya. Dia ingin memenuhi janjinya” ucap Ayah lirih

Aku masih ingat malam itu. Kali pertama Ara berbicara denganku. Ara menangis. Aku tidak tahu sebabnya. Ia duduk sambil memeluk kedua kakinya dan menangis. Kepalanya ditenggelamkan ke kedua kakinya dan menangis. Cukup lama ia menangis. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya dan menatapku.
“Kamu siapa?” ia bertanya padaku.
Aku tidak menjawab.
“Elina. Kamu Elina kan?” tanya nya lagi.
Lagi-lagi, aku tidak menjawab. Tentu saja, aku ini benda mati dan benda mati  tidak bisa berbicara.
“Kamu mirip sekali dengan Elina” gumam Ara
“Kamu tahu, Elina itu siapa?” Ara bertanya lagi
Hening sesaat.
“Dia Ibuku”

Keesokan harinya, Ara kembali mengundang Mahesa. Ia menceritakan semuanya. Tentang Ayah dan Ibunya. Mahesa mendengarkan. Hanya mendengarkan. Ara bercerita. Air matanya tumpah.
“Kamu tahu, tanpa kamu sadari kamu juga merindukan Ibumu” ucap Mahesa setelah tangis Ara mereda.
“Aku tidak merindukannya. Bagiku dia sudah mati”
“Mungkin ya, dia memang sudah mati. Tapi kamu mengubur mayatnya di dalam hatimu. Memenuhi rongga hatimu yang kecil itu. Membuat hatimu rasanya serasa ingin pecah dan malah terasa sakit. Membuatmu menciptakan sendiri sosok Ibu yang kamu inginkan, didalam Elina, yang sebenarnya tidak pernah ada”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Keluarkan dia. Hidupkan dia kembali”
“Bagaimana caranya?”
“Memaafkan”
Ara tampak tidak mengerti. Mahesa menarik Ara, membuat Ara berdiri dihadapanku.
“Sekarang katakan, siapa yang ada didepanmu?” tanya Mahesa.
“Elina”
“Salah. Elina ada dibelakangmu”
Ara menengok kebelakang. Itu dia. Mahesa benar. Itu benar-benar Elina. Utuh, tanpa kurang apapun. Matanya sama seperti Ara. Mirip.
“Maaf”
Cuma itu kata yang terucap dari Elina. Ia mendekati Ara. Memeluknya.

Matahari terbenam. Elina sudah pergi lagi, entah kemana. Ara sedang memakan sesuatu bersama Ayah. Keduanya duduk bersebelahan di depanku.
“Memaafkan itu sulit, ya? Tapi sekarang Ara mengerti apa maksud Mahesa”
“Mahesa bilang apa?”
“Dia bilang aku harus mengeluarkan mayat Ibu dari hati Ara”
Ayah tampak tidak mengerti.
“Intinya, aku harus memaafkan Ibu supaya tidak ada lagi perasaan dendam”
Ayah mengangguk-angguk.
“Ngomong-ngomong soal Mahesa, tadi dia minta izin sama Ayah”
Ara berhenti mengunyah.
“Minta izin apa?” tanya Ara
“Dia minta izin untuk antar-jemput kamu kesekolah, untuk main kerumah setiap hari, untuk mengajak kamu pergi”
Ara tersenyum.
“Kita lupakan semuanya, ya? Mulai hidup yang baru. Kamar yang baru, rumah yang baru” ucap Ayah.
Ara tersenyum lagi.

Aku menyayangimu, Ara. Belum pernah ada manusia yang memperlakukan aku seperti kamu memperlakukanku. Kamu teman yang baik, tidak seperti aku. Aku hanya bisa mendengar semua keluh kesahmu, aku tidak bisa menjawab atau menanggapi semua ucapanmu. Meski begitu, aku yakin Mahesa bisa menjadi temanmu. Seperti katamu, kau sudah dewasa. Aku hanya sebuah cermin. Selama ini kau berbicara dengan bayanganmu sendiri. Elina adalah pantulan dirimu, Ara. Bersikaplah dewasa. Berhenti berbicara di depanku lagi, tetaplah menjadi Ara meskipun Elina tidak ada lagi.
Ara, berhenti berkawan denganku.
Bagi kisahmu dengan Mahesa, aku yakin dia akan mengerti.
Nah, sudah saatnya.
 “Ucapkan selamat tinggal pada Elina” ucap si Ayah.
Ara berdiri dihadapanku. Ia tersenyum.
“Elina kan ada dirumah keluarga barunya?”
“Maksudnya, Elina yang ada didepanmu itu”
“Ayah, didepanku itu adalah bayanganku sendiri. Caesara Humaira. Ara. Bukan Elina” ucap Ara mantap.
Ayah tertawa. “Kamu akan merindukan kamar ini?” tanyanya pada Ara.
“Ya. Tidak. Mungkin ya, mungkin tidak. Aku belum pernah pindah rumah sebelumnya” jawab Ara. Ia menutup tirai jendela kamar, membuat jendela rumah seberang tidak kelihatan lagi.
Ayah menutup semua bagian tubuhku dengan kain putih besar. Meskipun aku tidak lagi bisa melihat Ara, aku bisa merasakan dia masih ada di sini. Di depanku.
Terdengar langkah kaki yang berjalan menjauh, kemudian pintu yang menutup.
Selamat tinggal, Ara.
 


Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...
Myspace Graphics and Myspace Layouts