Skip to main content

Perayaan Ulang Tahun Sekolah


Jadi begini.
Gue, sebagai wakil ketua panitia
Terus, gue kepengen banget acara ini sukses.
Bener deh, akan membanggakan kalo OSIS angkatan 09/10 bisa memboyong guest star yang WAH!
Tapi,guest star itu harganya MAHAL
Belum lagi itu komite mewanti wanti "Kalo dananya adanya segitu, yaudah acaranya ga usah bagus bagus! ga usah capek capek cari dana!"
HALOOOOOOO
Buat anak - anak lain, mereka nggak akan terima, kan?
Dijamin acaranya bakal garing karena ga ada guest star.
OH GOD
Masalah dekorasi juga butuh biaya banyak.
Kalo tanpa dekorasi, apa jadinya itu pesta?
So tell me, how we can solve this?
KEKOMPAKAN.
Basi, ya? Kompak aja nggak akan cukup.
Okee. Mari diperbaiki kalimatnya.
Jadi seperti ini:
KOMPAK NYARI DUIT
Nah, itu baru benar!
Brilian!
EUREKA!
Jadi, mari kita cari duit.
Untuk acara kita bersama, untuk Perayaan ulang tahun yang lebih baik.
HIDUP!
salam,

Ketupat Sayur

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts