Skip to main content

PERJALANAN








Kemarin, tanggal 16 Januari 2010 gue dan rini bertualang ke SMA 26. Letaknya di TEBET. Yaa, itu tempat yang belum pernah gue jamah dengan angkot. Alhasil, gue pasrah dengan info dari Fira, si empunya sekolahan.
Jadi instruksinya begini :
Dari Jatibaru, naik 640 turun di Pancoran.
Dari Pancoran, naik 62 turun di McD Tebet
Dari McD Tebet, naik bajaj sampai SMA 26.
Tunggu. Perjalanan bukan dimulai dari Jatibaru, melainkan dari Jalan Bhakti IV/I Kemanggisan. Gue harus naik P16 sampai Tanah Abang, kemudian baru naik 08 dan turun di Jatibaru.
Tebak apa yang ada di otak gue waktu gue sampe di sana.
Yaaa tentu saja si tuan abnormal a.k.a p****

It has been three years, and I'm still can't forget him.

Yayaya, I'm a stupid. Fool. I'm trapped in the past and can't let go of it.

Oke, kembali ke perjalanan.
Jadi gue bertemu Rini disitu dan mulai naik 640. Catat, waktu itu gue lapar sangat karena stamina gue dikuras oleh SERENADE (lagi)
Mulailah gue ngobrol dengan Rini yang baru kedatangan tamu, yang amat sangat disukainya, sebut saja Hasan.
Pokoknya kita ngobrol dan sampailah di Plasa Semanggi.
Tebak apa yang langsung hinggap di otak gue?
yayaya, itu dia si vokalis.

Lalu ketika sampai dipancoran dan naik 62 kemudian turun di McD. Terus kita makan disana dan perjalanan berlanjut.

Marilah kita meringkas perjalanan ini, sampai gue pulang.
Jadi ceritanya gue udah di McD lagi dalam perjalanan pulang, dan tiba-tiba gue kebelet pipis. Ya Tuhan, dimana gue akan pipis? Itu masih di daerah Tebet dan rumah gue ada di Jembatan Lima. Ya Tuhan, pasti butuh waktu minimal satu jam buat sampe di rumah.
Jadilah gue menahan hasrat gue sampai rumah.
Jangan tertawa diatas penderitaan orang lain bung.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts