Skip to main content

satu-Awal Mula


@Halte Bus
15 Januari 2010 07.00

Jakarta hujan.
Awan hitam menggelayut. Hawa dingin menusuk tulang, membuat tubuh menggigil. Seorang gadis menunggu di halte bis, mengenakan seragam sekolah batik dan rok biru khas anak SMP. Rambutnya lurus sampai ke bahu, kulitnya kuning langsat. Tingginya kira-kira 150 cm dan dia menjinjing tas ransel berwarna ungu lavender dipundaknya.
Gadis itu melirik ke arloji di tangan kirinya. Ia mendesah. Sebenarnya, ia bisa saja berjalan kaki menuju sekolahnya yang jaraknya empat ratus meter. Masalahnya, hujan turun deras sekali dan Ilona lupa membawa payungnya. Ia tidak mau basah kuyup tersiram hujan. Berkali-kali ia menelepon temannya, tapi tidak ada yang mengangkat. Ia mulai panik. Pelajaran pertama hari ini adalah guru killer yang tidak pernah mentolerir keterlambatan.
Tiba – tiba sebuah mobil berhenti tepat didepan halte. Pintu bagian penumpang terbuka, dan keluarlah seorang gadis lagi dengan seragam yang sama, membawa payung winnie the pooh.
“Kita pasti kena sit up lima belas kali,” ucap gadis itu pada temannya yang baru datang.
“Nggak, tadi gue telpon Bayu, katanya bel dimundurin 15 menit gara-gara ujan,”
Kedua gadis itu setengah berlari masuk ke mobil. Percikan-percikan air mengenai kaus kaki mereka saat sol sepatu mereka menginjak aspal yang becek.
***

Lemon.

Dendro suka nama itu untuk proyek bersamanya dengan Om Lukas Samody, kerabat ibunya. Tapi Om Sam tidak suka nama itu. Ia lebih suka Lemonade.
Dendro tidak mau berdebat dengan Om Sam. Ia tidak suka beradu kata, kecuali dengan Mendy.
“Rena udah berangkat sekolah?”
Dendro mengangguk. Matanya sibuk membaca laporan persiapan untuk pembukaan Lemon.
“Honey Lemon Tea gratis sebagai welcome drink. Menurutmu kita bakal rugi gak?” tanya Sam. Ia memang lebih tua delapan tahun dari Dendro, tapi pemikiran Dendro dalam dunia bisnis lebih baik daripada dirinya.  Sam sendiri lebih senang pada jurnalistik. Baginya, dunia Cuma foto dan tulisan.
“Nanti minuman ini bakal jadi andalan kita, Om. Untuk permulaan dikasih gratis dulu, terus diskon, baru deh harga normal”
“Om serahin semua sama kamu ya? Om percaya kamu pasti bisa,” Sam menepuk pundak Dendro. Ia harap itu bisa memberi semangat baru untuk Dendro.
Dendro tersenyum. Ia bangkit dan meraih vest berwarna orange lembut dengan lambang Lemon di bagian dada sebelah kiri. Dihirupnya vest itu dan mendapati wangi Mendy tidak lagi tercium. Sudah satu tahun. Satu tahun terberat yang pernah dilaluinya.
“Setiap kali aku menghirup wangi Lemon, aku teringat padamu”

Dendro menoleh dan mendapati Mendy sedang menatapnya. Bibirnya belepotan es krim. Diambilnya sapu tangan Ibunya yang selalu disimpannya, lalu dilapnya sisa es krim di sisi bibir Mendy.Mendy cemberut. Ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil, apalagi oleh laki-laki yang usinya dua tahun lebih muda daripada dirinya.

“Thanks for all that you’ve done for me” ucap Mendy. Ia menyuap sesendok es krim ke mulutnya.

Dendro mengeryitkan kening. “I didn’t do anything”

“Sure, you did”

“No, I did nothing”

Mendy cemberut lagi. Ia menyuapkan sesendok besar es krim ke mulut Dendro, membuat laki-laki itu terbatuk. Mendy tertawa melihat Dendro tersedak.
“Don’t you dare laughing at me!” ucap Dendro.
Mendy tetap tertawa. Ia tertawa terus, membuat Dendro gemas dan mulai menggerakkan pensilnya diatas kertas. Dilukisnya tawa itu, berharap tawa itu akan abadi dalam memorinya.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts