@Ilona’s school
15 Januari 2010 10:01
“Lu ikut lomba ini?” tanya Hanna.
Ilona mengangguk. “Itu bukan lomba, tapi lowongan freelance”
“Terserah deh apapun namanya. Tapi ini kan buat mahasiswa neng. Kesempatannya kecil,”
Ilona menyendok sesuap nasi goreng kemulutnya.
“Bukan berarti kita ga boleh nyoba kan? Ayo dong Han, lu kan temen gue, harusnya lu dukung gue dong. Lagian kalaupun gue gak lolos, gue gak bakal rugi, kan?”
Hanna berdecak kagum. Ini dia yang disukainya dari seorang Ilona : pantang menyerah. “Terus, lu harus kirim apa aja?”
Ilona berhenti mengunyah. Kini mulutnya sibuk menyedot es the manis.
“Bawa diri aja sih katanya. Kemarin sore gue ditelpon sama orang Readbooks. Kalo gak salah namanya Lukas Samody. Katanya dia pernah baca cerpen gue yang di Readbooks bulan lalu, terus dia tertarik sama gaya bahasa gue yang … mengalir,” ucap Ilona sambil tersenyum. Bukan senyuman yang menyiratkan kesombongan, tapi senyuman yang bermakna kepuasan diri. Hanna paham betul kepuasan itu. Ia tahu Ilona berusaha mati-matian untuk jadi seorang penulis.
“Ehmm cerpen yang dimuat di Readbooks kan tentang si pria misterius ya? Yang suka ketemu di halte?”
Ilona mengangguk. Samar-samar Hanna melihat rona kemerahan dipipi Ilona. Yang dimaksud pria misterius adalah cowok yang sering ditemui Ilona di halte bis.
“Gue pengen liat deh, seganteng apa sih?”
“Enggak ganteng, biasa aja. Tapi kharismanya itu loh. Udah gitu ya, jarang-jarang kan anak SMA jaman sekarang mau naik bus? Biasanya kan sok-sokan naik motor atau bawa mobil sendiri. Terus dia tuh gak pernah ngerokok dalam bus. Lu tau kan, biasanya anak seumuran gitu demennya ngerokok. Wah pokoknya mantap deh.”
Hanna mencibir. “Everything seems special when you’re fall in love”
Ilona terkekeh, kemudian kembali menyuap sesendok nasi goreng. Ia melirik arlojinya. Sepuluh menit lagi waktu istirahat usai. “Doain gue ya buat nanti sore. Semoga gue bisa dapetin job ini. Kalo iya, nanti lu gue traktir deh,”
Hanna mengangguk. Dipandanginya Ilona, sahabatnya sejak SD. Ada rasa bangga terselip di hatinya. Ia senang, Ilona semakin dekat melangkah menuju cita-citanya. Ilona memang beruntung, memiliki bakat menulis yang didapatnya dari sang ayah, yang kini tidak lagi tinggal bersama Ilona. Orang tua Ilona berceerai saat Ilona masih berusia sepuluh tahun. Meskipun begitu, Ilona dan Ibunya masih menjaga hubungan baik dengan sang ayah. Ilona berkunjung ke rumah ayahnya di Bandung setiap dua minggu sekali.
“Han, gue keatas duluan ya. Abis ini ulangan matematika nih.”
Hanna tersentak kaget. Ternyata nasi goreng Ilona sudah ludes. “Yaudah. Gue masih nungguin Bayu. Katanya dia mau minjem catatan kimia.”
Ilona ber-oh pelan. ia bangkit dari duduknya dan melambai pada Hanna.
***
@Readbooks
15 Januari 2010 16:00
Kantor redaksi Readbooks terletak bersebrangan dengan sekolah Ilona. Ruangan – ruangan dalam kantor itu bernuansa colourful dengan didominasi dengan warna-warna cerah. Readbooks adalah majalah remaja yang baru rilis dua bulan yang lalu. Ilona mulai berlangganan Readbooks sejak cerpennya dimuat di situ dan mendapat honor yang lumayan besar. Kini, kesempatannya untuk bisa mempublikasikan tulisannya semakin besar jika ia diterima menjadi freelancer di Readbooks.
“Jadi cerpen yang bulan kemarin itu kamu yang buat?”
Ilona mengangguk pelan. Saat ini ia tengah di interview oleh seorang wanita berkacamata yang mengenakan kemeja putih garis-garis hitam di ruangan yang dipenuhi lukisan-lukisan abstrak.
“Saya tertarik dengan cerpen kamu, tapi saya gak nyangka kalau yang nulis masih SMP.”
“Saya memang suka menulis sejak SD bu, makanya–“
Ilona tidak meneruskan kalimatnya. Si wanita berkacamata memotong perkataannya dengan nada yang sinis, “Saya gak minta penjelasan kamu. Yang tadi itu pernyataan, bukan pertanyaan.”
Ilona menggigit bibirnya. Ia takut pada wanita berkacamata di depannya.
“Saya heran kenapa Sam memanggil kamu kesini. Saya nggak bisa bekerja sama anak kecil.”
Ilona pasrah. Ia sudah rela jika tidak bisa menjadi freelancer di Readbooks, asal ia bisa keluar dari ruangan itu.
“Bulan lalu saya terpaksa memuat cerpen kamu, soalnya yang kirim cerpen itu Cuma tiga orang. Dan dua lainnya itu cuma pantas masuk tempat sampah. Sekarang saya ingin kamu jujur, siapa sebenarnya yang tulis cerpen bulan lalu?”
Ilona tahu kemana arah pembicaraan si wanita berkacamata. Ia pasti mengira cerpen Ilona yang kemarin bukanlah karyanya.
“Itu cerpen saya, saya gak bohong.” Ucap Ilona dengan lirih. Ia ingin menangis. Sungguh, ia tidak mau dianggap mencuri karya orang lain.
“Gak usah takut, saya gak akan minta uang honornya lagi. Pasti udah abis buat traktir teman-teman kamu kan? Saya Cuma minta kejujuran kamu. Cerpen siapa yang kamu kirim?” ucap si wanita berkacamata dengan suara yang lebih lembut, namun tetap terdengar sinis di telinga Ilona.
Ilona kembali menggigit bibirnya. Kenapa jadi seperti ini? Ia pergi ke Readbooks untuk membuka pintu cita-citanya, tapi sekarang dia malah dihadapkan pada kenyataan yang meyakinkan. Cerpennya dimuat karena Cuma ada tiga cerpen yang masuk ke Readbooks saat itu. Cerpennya tidak pernah mengalahkan ribuan cerpen dari seluruh Indonesia seperti yang digembar-gemborkan Lukas Samody saat meneleponnya kemarin malam.
Parahnya lagi, sang editor tidak percaya bahwa cerpen itu bukan karya asli Ilona.
“Saya sudah jujur, bu. Itu cerpen saya. Saya membuatnya semalaman.” Ucap Ilona dengan suara bergetar. Ya Tuhan, ia ingin menangis saat itu juga.
Si wanita berkacamata tampak jengkel. “Hhh tuh kan malah mau nangis. Ya udah, mendingan kamu pulang, cuci kaki, terus tidur. Jangan mimpi mau mau jadi freelance di Readbooks!”
Ilona tidak menolak. Ia bangkit dan mengambil tasnya, kemudian keluar dari ruangan itu. Matanya panas. Ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisnya, tapi tidak bisa. Semua karyawan Readbooks kini memandanginya dengan rasa kasihan. Ia ingin segera keluar dari situ. Ia berlari menuju lift. Didalam lift lah, ia menangis.
Ia menangis terus sampai tidak menyadari bahwa pintu lift terbuka.
“Jangan nangis disini, malu tau.”
Ilona tersentak kaget. Di depannya kini berdiri seorang laki-laki. Ilona membaca ID Card yang menggantung di lehernya.
LUKAS SAMODY
“Maaf, saya gak sengaja. Saya lagi sedih.”
Samar-samar dilihatnya Lukas Samody tersenyum. Ia meraih tangan Ilona dan menariknya keluar dari lift, menuju ke lapangan parkir Readbooks.
“Kebahagiaan kita di dunia itu terbatas, jangan sampai kita mereguk kebahagiaan tersebut hanya dalam satu hari. Hidup tidak akan menyenangkan kalau tidak pernah ada kerikil yang mengganjal perjalanan mimpimu.”
Ilona tersenyum mendengar perkataan Lukas Samody.
“Quotes nya bagus. Dapat dari mana?”
Lukas Samody tersenyum. “Dari teman saya, namanya Mendy. Umurnya masih 19 tahun, tapi dia sudah lebih dewasa daripada saya.”
Ilona mengangguk pelan. “Ehmm pak Lukas Samody, jadi itu ya maksudnya saya dipanggil kesini?”
Lukas Samody memandang Ilona dengan bingung.
“Panggil Om Sam aja, ya. Biar lebih akrab.” ucap Lukas Samody pada Ilona. Ilona patuh.
“Saya minta maaf atas perlakuan Agnes. Betul, saya menelpon kamu karena disuruh Agnes untuk mengkonfirmasi tentang karyamu. Tapi saya percaya itu karya kamu, kok.”
“Saya ngerjain itu semalaman loh. Sampai gak belajar Matematika, padahal besoknya ulangan.” Ucap Ilona sewot.
“Iya, saya percaya kok. Eh iya, karya kamu bagus loh, Seems like it really happen. Curhat colongan ya? Dasar, ABG. Hidup kok kayaknya berputar di masalah cinta melulu.” Ucap Lukas Samody. Ia teringat pada Dendro dan cinta matinya pada Mendy.
Ilona tertawa. “Ah Om Sam kayak gak pernah ABG aja deh. Kan masa puber Om, hehe”
Comments
Post a Comment