Skip to main content

x-g


xgambris.jpg

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan sukacita yang utuh, pun tiada terkirakan.
(Kahlil Gibran).
Foto diatas adalah foto saya dan teman-teman di kelas x-g, teman ‘seperjuangan’ sewaktu semenster dua di SMAN 78. Awalnya saya risih dengan kelas ini, karena saya satu-satunya cewek yang masuk kelas x-g dari x-h (kelas saya sewaktu semester satu). Jujur, saya memang susah beradaptasi dengan orang baru. Akhirnya, saya duduk dengan sembarang orang. Awalnya saya sebangku dengan Avi, tapi kemudian dia pindah ke kelas SCI (semacam akselerasi). Akhirnya, saya duduk sebangku dengan Syifa, siswa pindahan dari SCI. Hahahaha aneh ya, teman sebangku saya yang pertama itu calon SCI, sedangkan yang kedua malah mantan SCI.
Syifa itu, biarpun berkerudung, tapi sifatnya sama sekali tidak feminine. Orangnya galak, berbeda sekali dengan saya yang tidak bisa marah-marah sama orang, hehehe. Tapi mungkin karena perbedaan sifat itu, saya merasa klop dengan Syifa. Karena dekat dengan Syifa, saya pun akhirnya juga dekat dengan Ira, Dita, Laya, dan Lia (mereka berlima dekat sejak semester satu). Akhirnya, kita berenam hamper selalu satu kelompok setiap ada tugas kelompok.
Awalnya X-G memang tidak solid. Semuanya membentuk kubu – kubu. Ada kubu 45 (isinya jebolan SMP 45), kubu QB (isinya orang-orang yang les di salah satu bimbingan belajar dekat sekolah), kubu orang-orang pintar, dan kubu saya, Syifa,dan kawan-kawan. Semuanya memiliki sifat yang berbeda-beda, jadi memang sulit untuk disatukan.
Tapi, seiring berjalannya waktu (mungkin juga karena perasaan senasib seperjuangan), kami menjadi dekat dan sering melakukan aktivitas bersama : makan bersama di kantin, main futsal, sampai bolos pun bersama-sama. Saat berada di kelas X-G adalah saat yang paling menyenangkan. Sejak SMP sampai sekarang, baru di X-G saya mendapat teman-teman yang baik dan mau berteman dengan tulus.
Foto diatas adalah salah satu kegiatan bersama-sama X-G yang rutin dilakukan : main futsal. Yang bermain memang hanya kaum adamnya saja, sedangkan ceweknya Cuma menonton. Mendukung siapapun yang memasukkan bola ke gawang, menertawakan siapapun yang jatuh. Pokoknya, yang penting kebersamaannya. Setelah main futsal, giliran sesi berfoto. Sehari sehabis main futsal pasti facebook penuh notification karena comment foto. Isi comment nya tidak ada yang penting sebenarnya. Hanya saling meledek, saling melempar guyonan.
Perpisahan X-G dilaksanakan di rumah Fathia. Niatnya sih mau mengadakan barbeque party di siang bolong, tapi ternyata ayam yang dipesan sudah diberi bumbu dan dibakar, jadi tinggal santap. Padahal sudah ada yang membawa alat barbeque nya,  akhirnya Cuma dipakai untuk membakar jagung empat buah! Hahahaha. Rumah Fathia benar-benar diluluh lantakkan oleh pasukan X-G. Ada yang bermain raket, basket, berenang, sampai membuat rujak. Hasilnya? Ring basket rusak, lantai becek kotor, dan satu tanaman milik orangtua Fathia mati.
Sekarang X-G sudah terpisah ke kelas yang berbeda. Saya kehilangan sekali suasana selama di X-G yang hangat, saya tidak akan melupakan kelas X-G ini.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts