Skip to main content

Buku

Gue suka baca. Gue ini kutu buku, dan gue ga malu buat ngakuin ini. Buku apapun mau gue baca (kecuali pelajaran sih, hehe).
Sekarang, gue mau kasih tau pengarang favorit gue.

Farah Hidayati.
Dia itu yang nulis novel Rumah Tumbuh, dan novel itu pantas banget dikasih bintang lima. Kenapa? Karena itu adalah novel teen-lit yang gak kosong. Kata-katanya sesuai EYD tapi tetap ngalir, pelajarannya juga banyak meskipun sama sekali gak terkesan menggurui.

Sitta Karina
Bukannya mau ikut-ikutan suka sama karyanya Sitta Karina, tapi gue selalu kagum sama penokohannya dia. Sitta Karina bisa banget menciptakan satu tokoh yang tampak nyata, dan karakternya kuat. Emang sih dia punya kekurangan di alur yang selalu buru-buru pas di akhir cerita, tapi ya itung-itung buat belajar lah (secara gue juga mau bikin novel).


Meg Cabot
Alasannya simpel : karena gue selalu suka sama tokoh cowok yang ada di novelnya. Udah gitu ceritanya romantististis, hehe. Gue paling suka novelnya yang ALL AMERICAN GIRL

JK Rowling
Menurut gue, Harry Potter adalah buku favorit gue sepanjang masa. Alurnya bagus, penokohan oke, pas baca kita seakan-akan ikut masuk ke dunianya Rowling.  

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts