Skip to main content

Mendengar apa kata Indonesia

Kemarin gue nonton suatu acara di tv. Disitu ada anak kecil umurnya 8-9 taunan gitu deh. Dia udah punya buku biografi diri dia sendiri gitu deh. Wah, gue kagum banget. Apalagi gue denger dia ngomong bahasa inggrisnya faseh banget. Cas cis cus, lebih mantap daripada guru bahasa inggris gue sendiri. Gue kira dia emang lagi diekspos karena pinter bahasa inggrisnya. Singkat cerita, suatu saat dia disuruh bacain beberapa paragraf dari bukunya sama si presenter. Bukunya bahasa indonesia, terus si presenter nanya sama anak itu, "Can you speak Bahasa?" dan si anak dengan lugunya menjawab, "Not so much"
Dari situ, entah kenapa, gue merasa prihatin. Kok bisa ya ada anak Indonesia yang ga bisa ngomong bahasa indonesia? Bukannya gue gak mendukung anak kecil bahasa inggris ya, tapi gue merasa kok si orangtua gak cinta banget sama negaranya sendiri.
Oke, gue akuin sih, Indonesia emang gak sebagus negara-negara lain. Katanya Indonesia itu bobrok dan gak punya masa depan cerah alias madesu. Tapi tetep aja, di Indonesia lah gue lahir, di Indonesia lah orangtua gue nyari nafkah buat membesarkan gue. Di Indonesia lah gue belajar, di Indonesia lah gue mengenal LEGO 78.

Bahasa Indonesia itu kan identitas kita, kenapa sih kita gak coba berbangga diri dengan bahasa kita sendiri? Kenapa sih kita bisanya cuma menjelek-jelekkan negara yang udah membuat kita ada? Kalo emang negara B yang lo bangga-banggain itu lebih bagus dan lebih 'wah' daripada Indonesia, kenapa gak pindah aja kesana?

Aduh, kok kayaknya omongan gue makin ngaco deh. Yaudahlah, intinya tuh, gue cuma mau  ngingetin kalian kalo bahasa Indonesia harus tetap eksis ditengah bahasa-bahasa lain yang sekarang banyak dipelajari anak TK di Indonesia. Gue gak melarang kalian buat belajar bahasa asing kok, gue cuma mau kalian mengeksiskan bahasa Indonesia. 
HIDUP INDONESIA!

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts