Skip to main content

what I want to be?


What I want to be, what I want to be,
when I grow up to be big me
what I want to be, what I want to be?
Is a doctor, or a mail career?

 Yak itu tadi adalah cuplikan lagu Barney yang sering disetel Ilham Malik Akbar ponakan gue yang pertama. Lagu itu entah kenapa cocok banget sama gue akhir - akhir ini yang lagi bingung nyari jurusan kuliah. Nah, masalahnya adalah, gue sendiri ga tau mau apa gue nanti?
Jauuuh di lubuk hati gue yang terdalam dan terkecil, gue pengin jadi penulis.
Iya, penulis yang suka nulis di koran atau majalah. Hobi gue dari kecil ya memang itu.
Tapi masalahnya, menjadi penulis di Indonesia sama aja cari mati. Mungkin lu bakal bisa mengecap manisnya kalo udah seterkenal Sitta Karina atau Raditya Dika, tapi kan jalan kita belum tentu bisa semulus mereka? Menurut gue, penulis di Indonesia itu belum dihargai seperti penulis dihargai di negeri orang. Jadi, gue memutuskan untuk tidak kuliah di bidang kepenulisan (baca : sastra).

Selain karena alasan diatas barusan, gue agak sayang juga sama perjuangan gue belajar Mat, Fis, Kim, dan Bio dalam tiga tahun. Kayaknya ga meaning banget kalo gue masuk sastra dan mafia bio itu ga dipake sama sekali. Jadi, gue memutuskan buat ngambil jurusan IPA.

Piilihannya banyak : Kedokteran, Teknik, Farmasi, Ilmu Gizi, dan bla-bla-bla. Semuanya punya nama yang agak 'nyeremin' buat gue. Kedokteran? WOW. siapa pula yang ga mau masuk FK? Masalahnya otak gue ga nyanggup buat masuk FK. Teknik? Keren sih, tapiiii ga tertarik. Farmasi? Yaa berarti gue harus berkutat dengan obat-obatan dong ya? Ilmu Gizi. Hmm ga tertarik.

Mungkin yang baca blog ini bakal mikir, JADI LU MAUNYA APA?
Oke, gue memang membingungkan, tapi gue udah memutuskan mau masuk mana.
PSIKOLOGI.
Pas kan? Masih ada IPAnya, tapi insya allah ga terlalu banyak.
Masalahnya, gue ga 100% yakin mau masuk psikologi. Hati kecil gue bilang kalo ini bukan yang bener-bener gue mau. Istilahnya, cuma pengalihan.
Pengalihan dari mana? SASTRA.
Tuh kan. Sastra lagi. Gue bingung, kalo gue ambil sastra, gue bakal jadi apa?
Penerjemah?
Jadi, gue mencoba menyakinkan diri.
PSIKOLOGI PSIKOLOGI PSIKOLOGI PSIKOLOGI PSIKOLOGI

yah semoga pas SNMPTN nanti, gue udah 100% jatuh hati sama psikologi.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts