Skip to main content

friend(s)


Selama SMA, gue ga pernah punya temen yang betul-betul deket sampe kemana-mana bareng. Semester 1, gue duduk sama Lila. Orangnya betawi banget, tomboy, tapi baik hati. Nah, selama semester 1 itu ya gue mainnya sama si Lila ini terus, tapiii ketika memasuki semester 2, kita pisah. Gue ke IPA, Lila ke IPS.
Hasil perpisahan kita saat itu adalah Putus Kontak. Sekarang kalo ketemu cuma say hi. Ibaratnya udah beda pergaulan lah. Padahal ga pernah berantem loh. Semester 2, gue duduk bareng Syifa. Orangnya berkerudung, tomboy, ngomongnya ceplas ceplos, tapi baik hati. Sama seperti kejadian di semester 1, gue dan Syifa (atau biasa dipanggil chili) jadi deket dan masuk ke tahap curhat-mencurhat. Tapiii kebijakan pindah kelas tiap semester memisahkan gue dan syifa, beda paket pula (berarti beda dunia) jadi kita jarang banget bisa ngobrol bareng lagi. Berita bagusnya, kita ga putus kontak dan tetap berteman baik sampai sekarang.
Semester 3, gue duduk bareng Lestari. Sama seperti sebelum-sebelumnya, gue dan Lestari mendekat bak kutub utara dan kutub selatan, tapi akhirnya gue harus pindah kelas lagi dan kita berdua putus kontak. Kejadiannya sama persis kaya Lila, kita cuma say hi kalo ketemu.
Lanjut ke semester 4, gue duduk sebangku sama Lia. Dia ini atasan gue di OSIS, dan kita duduk berdua karena dia dan gue adalah ketua dan wakil acara ulang tahun sekolah. Kita jadi lumayan deket, bareng Laya, Itha dan Githa gue mengalami masa-masa paling bandel di sekolah : bolos pelajaran. Wiw.
Tapi gue terpaksa berpindah kelas lagi, kembali lagi ke paket kimia, dan gue sekelas dengan teman-teman peralihan yang seperjuangan : Monda, Anna, dan Nadia.
Gue duduk sama Monda dan dari sini gue sadar betul kalo Monda dan gue punya banyak kesamaan. Pikiran kita tuh sama, terutama dalam hal memandang fna-fna di kelas. Hubungan gue sama Monda baik dan kita juga jadi deket, tapi ya enggak sedeket Lia dan Laya, atau Silvany dan Viana, atau yang lain-lain yang kemana-mana selalu berdua sepanjang masa.
Kadang iri deh, gue juga mau punya bff atau apalah itu namanya. Gue pengen punya temen yang deket banget, temen yang bisa gue ceritain tentang apapun, temen yang (kalo meminjam istilah sosiologi) mendarah daging, yang udah kaya saudara sendiri. Temen yang biarpun badai menghadang (pisah kelas maksutnya) akan tetap keep contact sama gue.
Berlebihan kah kalo gue cuma minta itu?
Ehmmm now you know that I'm not stable.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts