Skip to main content

deritaku deritamu derita di semester 5

Dua minggu terakhir ini adalah minggu-minggu paling berat. Nih ya gue ceritain. Hari sabtu ada try out un di sekolah (yang berarti gue harus belajar fisika-kimia-biologi-mat dalam semalam) dan keesokan harinya gue ikut try out trofi dan gue ngambil ips, jadi setelah gue jungkir balik koprol (meminjam istilah naura) maka gue harus berkutat dengan ekonomi-geo-sosio-sejarah.
Seakan belum cukup penderitaan gue, keesokan harinya ada 3 ulangan menanti gue. Gila ga tuh? Udah kaya minum obat -.-
Jadilah pas hari selasa otak gue yang udah diperas-disaring-serta dikeringkan, minta diistirahatkan. Kebetulan banget si monda juga lagi males, jadilah kita menyusun rencana bolos bahasa inggris. karena ga asik cuma madol berdua, kita ngajak naura yang kebetuln hari itu sedang kehilangan separuh jiwanya (diah).
Akhirnya setelah pelajaran fisika bersama mr.makmun kita bertolak ke kantin karena perut kita bertiga udah demo minta makan. Eh ternyata dikantin udah ada jodi-mbeng-afriski plus pelangi serta sandriva yang juga mau berbolos hari itu.
Akhirnya dimulailah acara membolos itu dengan ngobrol ngalor ngidul ditemani seporsi spageti dan secara tiba-tiba pa pardede menampakkan batang hidungnya (dan badannya juga sih) dan para madolers langsung panik. Anak cowok langsung masuk ke bu lai, pelangi tiarap di atas meja, gue dan monda cuma belaga selow, dan yang paling klimaks adalah naura dan sandriva yang ngibrit ntah kemana.
Ternyata si pa pardede cuma mau ke ruang rokok, bukan ke kantin. Selamatlah para madolers dari amukan pa pardede. Akhirnya gue lanjut makan dan ngobrol lagi dan tau-tau naura dan sandriva nongol setelah sekian abad berlalu sejak kepergian pa pardede. Ternyata saking paniknya mereka kabur ke mesjid dan menunggu dengan berdebar-debar -______-
Yaudahlah akhirnya kita melanjutkan kegiatan madol kita berikutnya yaitu ke perpus dan belajar matdas (ini madol khas 78) dan sengaja lewat depan cambridge supaya gausah lewat ruang rokok. Tapi ternyataaaaa pas kita lagi jalan didepan cambridge kita BERPAPASAN dengan batang hidung pak pardede (dan badannya juga)!!
Yak kita udah pasrah dan ga tau mau ngomong apa, apalagi muka pa pardede ga bisa dibaca (ga ada tulisannya juga sih) dan dia langsung jalan aja.Dalam hati kita bertanya,
"Apakah pak pardede melihat kita, para madolers?"
"Apakah pak pardede akan menanyakan keabsenan kita hari itu?"
"Apakah kita harus madol ke hutan, lalu lari ke pantai?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiran kita sampai ke perpus dan sampai sekarang kita berdoa semoga pak pardede melupakan kejadian yang lalu dan segera move on.
Hikmah dari cerita hari ini adalah, rencanakanlah kegiatan bolos kalian sebaik-baiknya, gunakan ilmu fisika agar kalian bisa memperkirakan kecepatan berjalan supaya tidak berpapasan sama guru, dan gunakan ilmu matematika untuk menentukan peluang kemulusan madol kali itu.
Selamat membolos!

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts