Dua minggu terakhir ini adalah minggu-minggu paling berat. Nih ya gue ceritain. Hari sabtu ada try out un di sekolah (yang berarti gue harus belajar fisika-kimia-biologi-mat dalam semalam) dan keesokan harinya gue ikut try out trofi dan gue ngambil ips, jadi setelah gue jungkir balik koprol (meminjam istilah naura) maka gue harus berkutat dengan ekonomi-geo-sosio-sejarah.
Seakan belum cukup penderitaan gue, keesokan harinya ada 3 ulangan menanti gue. Gila ga tuh? Udah kaya minum obat -.-
Jadilah pas hari selasa otak gue yang udah diperas-disaring-serta dikeringkan, minta diistirahatkan. Kebetulan banget si monda juga lagi males, jadilah kita menyusun rencana bolos bahasa inggris. karena ga asik cuma madol berdua, kita ngajak naura yang kebetuln hari itu sedang kehilangan separuh jiwanya (diah).
Akhirnya setelah pelajaran fisika bersama mr.makmun kita bertolak ke kantin karena perut kita bertiga udah demo minta makan. Eh ternyata dikantin udah ada jodi-mbeng-afriski plus pelangi serta sandriva yang juga mau berbolos hari itu.
Akhirnya dimulailah acara membolos itu dengan ngobrol ngalor ngidul ditemani seporsi spageti dan secara tiba-tiba pa pardede menampakkan batang hidungnya (dan badannya juga sih) dan para madolers langsung panik. Anak cowok langsung masuk ke bu lai, pelangi tiarap di atas meja, gue dan monda cuma belaga selow, dan yang paling klimaks adalah naura dan sandriva yang ngibrit ntah kemana.
Ternyata si pa pardede cuma mau ke ruang rokok, bukan ke kantin. Selamatlah para madolers dari amukan pa pardede. Akhirnya gue lanjut makan dan ngobrol lagi dan tau-tau naura dan sandriva nongol setelah sekian abad berlalu sejak kepergian pa pardede. Ternyata saking paniknya mereka kabur ke mesjid dan menunggu dengan berdebar-debar -______-
Yaudahlah akhirnya kita melanjutkan kegiatan madol kita berikutnya yaitu ke perpus dan belajar matdas (ini madol khas 78) dan sengaja lewat depan cambridge supaya gausah lewat ruang rokok. Tapi ternyataaaaa pas kita lagi jalan didepan cambridge kita BERPAPASAN dengan batang hidung pak pardede (dan badannya juga)!!
Yak kita udah pasrah dan ga tau mau ngomong apa, apalagi muka pa pardede ga bisa dibaca (ga ada tulisannya juga sih) dan dia langsung jalan aja.Dalam hati kita bertanya,
"Apakah pak pardede melihat kita, para madolers?"
"Apakah pak pardede akan menanyakan keabsenan kita hari itu?"
"Apakah kita harus madol ke hutan, lalu lari ke pantai?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiran kita sampai ke perpus dan sampai sekarang kita berdoa semoga pak pardede melupakan kejadian yang lalu dan segera move on.
Hikmah dari cerita hari ini adalah, rencanakanlah kegiatan bolos kalian sebaik-baiknya, gunakan ilmu fisika agar kalian bisa memperkirakan kecepatan berjalan supaya tidak berpapasan sama guru, dan gunakan ilmu matematika untuk menentukan peluang kemulusan madol kali itu.
Selamat membolos!
Seakan belum cukup penderitaan gue, keesokan harinya ada 3 ulangan menanti gue. Gila ga tuh? Udah kaya minum obat -.-
Jadilah pas hari selasa otak gue yang udah diperas-disaring-serta dikeringkan, minta diistirahatkan. Kebetulan banget si monda juga lagi males, jadilah kita menyusun rencana bolos bahasa inggris. karena ga asik cuma madol berdua, kita ngajak naura yang kebetuln hari itu sedang kehilangan separuh jiwanya (diah).
Akhirnya setelah pelajaran fisika bersama mr.makmun kita bertolak ke kantin karena perut kita bertiga udah demo minta makan. Eh ternyata dikantin udah ada jodi-mbeng-afriski plus pelangi serta sandriva yang juga mau berbolos hari itu.
Akhirnya dimulailah acara membolos itu dengan ngobrol ngalor ngidul ditemani seporsi spageti dan secara tiba-tiba pa pardede menampakkan batang hidungnya (dan badannya juga sih) dan para madolers langsung panik. Anak cowok langsung masuk ke bu lai, pelangi tiarap di atas meja, gue dan monda cuma belaga selow, dan yang paling klimaks adalah naura dan sandriva yang ngibrit ntah kemana.
Ternyata si pa pardede cuma mau ke ruang rokok, bukan ke kantin. Selamatlah para madolers dari amukan pa pardede. Akhirnya gue lanjut makan dan ngobrol lagi dan tau-tau naura dan sandriva nongol setelah sekian abad berlalu sejak kepergian pa pardede. Ternyata saking paniknya mereka kabur ke mesjid dan menunggu dengan berdebar-debar -______-
Yaudahlah akhirnya kita melanjutkan kegiatan madol kita berikutnya yaitu ke perpus dan belajar matdas (ini madol khas 78) dan sengaja lewat depan cambridge supaya gausah lewat ruang rokok. Tapi ternyataaaaa pas kita lagi jalan didepan cambridge kita BERPAPASAN dengan batang hidung pak pardede (dan badannya juga)!!
Yak kita udah pasrah dan ga tau mau ngomong apa, apalagi muka pa pardede ga bisa dibaca (ga ada tulisannya juga sih) dan dia langsung jalan aja.Dalam hati kita bertanya,
"Apakah pak pardede melihat kita, para madolers?"
"Apakah pak pardede akan menanyakan keabsenan kita hari itu?"
"Apakah kita harus madol ke hutan, lalu lari ke pantai?"
Pertanyaan itu terus berkecamuk dipikiran kita sampai ke perpus dan sampai sekarang kita berdoa semoga pak pardede melupakan kejadian yang lalu dan segera move on.
Hikmah dari cerita hari ini adalah, rencanakanlah kegiatan bolos kalian sebaik-baiknya, gunakan ilmu fisika agar kalian bisa memperkirakan kecepatan berjalan supaya tidak berpapasan sama guru, dan gunakan ilmu matematika untuk menentukan peluang kemulusan madol kali itu.
Selamat membolos!

Comments
Post a Comment