Skip to main content

I grow up. I learn.

Ya Allah gue labil banget kemaren malem -____-
Harusnya ya gue ga sampe segitunya. sekarang aja gue lagi ngakak baca post kemaren.
Tapi yasudahlah yaa, yesterday is history. Gue janji bakal ngejadiin kegalauan itu menjadi sesuatu yang positif *eaaa*
Ngomong-ngomong gue belom cerita ya kalo gue gagal di snmptn? gue ga keterima di Fpsi UI dan itu sempet bikin gue down banget. gue nangis sesenggukan semaleman dan kakak gue cuma bilang "udahlah di gundar aja"
Okeee. pertama, itu sama sekali ga membantu. malah semakin bikin hopeless. tapi sekarang gue sadar maksud kakak gue tuh, keluarga ikhlas gue kuliah dimana pun. jadi yaa ga ada tuntutan gue harus kuliah dimana dan harus masuk fakultas apa. kalo dipikir-pikir ya gue beruntung banget sih, jadi sebenernya yang ngebebanin gue buat masuk ptn itu cuma ego gue sendiri. ngiri sama temen yang udah keterima dan perasaan 'kok dia diterima, gue nggak?'
Memenuhi relung hati gue. jadi ya mungkin itu yang membuat gue belum diterima.
Terus ya seperti kata nyokap, jalan hidup setiap orang itu berbeda-beda, tapi ujungnya tetep aja sama. jadi maksudnya, Allah mungkin tidak menghendaki kita sukses melalui jalan itu, tapi jalan yang lain yang menurutNya lebih baik untuk kita jalani.
So cheer up, lah. mulailah ikhlas dan berlapang dada. susah sih, tapi mau gimana lagi. anggap aja penolakan dari PTN dan abnormal (ups) adalah cara Allah mendewasakan gue.
Tuh kan, buktinya post gue semakin dewasa dan ga labil hari ini. tumben.
Seperti kata master Oogway di kungfu panda :
"Yesterday is a history. Tomorrow is a mystery, and today is a gift"
Cups :*

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts