Skip to main content

hello mr yellow

saya tidak benci. cuma sedikit sakit hati. gimana nggak, saya ditolak sampe tiga kali. teman-teman saya sebagian besar kamu terima, sedangkan saya nggak. saya tau, itu bukan salah kamu. bukan salah kamu kalau kamu begitu dipuja dan dipuji. bukan salah kamu kalau kamu begitu diperebutkan. kamu pasti menyalahkan saya karena kurang berusaha. kamu pasti bilang kalau mungkin bukan jalannya saya untuk kamu terima. tapi kamu tau, berapa malam yang saya habiskan untuk bisa kamu terima? kamu tau berapa air mata yang saya habiskan karena kamu untuk kesekian kalinya menolak saya?

Kamu pasti bilang saya kekanakan. tidak mau menerima kekalahan. kamu pasti bilang kalau saya bukan satu2nya orang yang kamu tolak.
Saya nggak menyalahkan kamu kok. saya marah pada diri saya sendiri karena bereskpektasi terlalu tinggi. saya marah pada teman-teman saya yang begitu yakin pada saya. pada guru-guru saya yang terlalu bangga pada saya. saya sakit hati pada pandangan orang yang bilang kalau saya gagal. saya tidak gagal. saya memang gagal diatas kertas, tapi otak saya tidak gagal. saya tidak bodoh dan akan saya buktikan pada kamu, bahwa penolakan darimu adalah penolakan terakhir yang saya terima.
Gng

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts