Skip to main content

be happy :))

pernah merasa jenuh? pasti pernah lah yaa. waktu kelas 3 dulu gue jenuh karena kebanyakan belajar buat un. dilanjutkan dg snmptn dan simak. dan semuanya ga membuahkan hasil yang sesuai dg harapan gue.
hmm oke mungkin gue untuk kesekian kalinya menyalahkan diri gue soal masalah diatas, tapi yg mau gue bahas sekarang bukan soal kegagalan gue, tapi kejenuhan gue saat ini.
kenapa gue jenuh?
banyak banget yg bikin gue jenuh dan kadang2 gue berpikir, abis ini gue ngapain? buat apa? gimana caranya? bakalan berhasil apa nggak?
gue jenuh karena si orang nyebelin itu semakin nyebelin dan ke-nyebelin-nya dia membuat gue semakin repot.
gue jenuh jadi orang yang seperti gue yang sekarang.
gue jenuh mengalahkan rasa malu dan gengsi gue karena kegagalan gue itu.
gue jenuh karena capek mencari cara buat membuktikan bahwa gue juga bisa sukses seperti orang-orang itu.
john lock benar soal teori tabularasa. gue yang sekarang, beda dg gue yg dulu. gue yg sekarang adalah gue yg terbentuk karena kegagalan gue waktu itu. kegagalan waktu itu membentuk gue yg pesimistis, rendah diri, dan cepat merasa jenuh.
tapiii seperti yg sudah-sudah, gue selalu merasa lebih baik setelah menulis. yes, writing is the best therapy for me. percaya ga percaya, setelah menulis ini gue menemukan semangat baru. setelah menulis, gue sadar bahwa gue yg diceritakan dlm tulisan ini bukanlah 'gue' yg harus dipertahankan. gue sadar, kalo gue terus2an seperti ini gue akan mengalami kegagalan yg baru, yang akan membentuk gue yg lebih buruk lagi.
yang mau gue tekankan disini, mungkin setiap orang pernah merasa jenuh seperti ini, tapi usahakan jangan jenuh terlalu lama. jenuh terlalu lama membuat kertas kehidupan kita dipenuhi coretan yg ga bagus sama sekali.


"happy girls are the prettiest"
-audrey hepburn-

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts