Skip to main content

kuliah kok begini amat -_-


Halo, long time no post! (kayaknya sapaannya begini mulu ya tiap nge post .__.
Hari ini gue mau cerita soal jadwal kuliah gue yang amat padat (thanks to aplikom yg udah nyumbang 6 jam dalam seminggu).
Jadi begini jadwal gue :
senin 7.30-17.30
selasa 17.00-19.00
rabu 9.30-16.30
kamis 13.30-15.30
jumat 7.30-15.30
sabtu 8.30-15.30
ngerti kan kenapa gue bilang padet? hell-to-the-o, libur gue cuma hari minggu dan itu semua karena jadwal nyampah ilab di hari kamis.
oiya liat lg jadwal hari selasa. oke gue ikhlas dtg 2 jam buat praktikum faal, tp jamnya itu looh. diskriminasi bgt gue liat jadwal PA lain dan mereka ada yg pagi jam 8-10, kenapa kelas gue dapetnya jam segitu :'(
bayangkan gue dari depok jam 7 malem, naik kereta sampe jakarta jam 8 malem, dari stasiun kerumah setengah jam, jadi gue sampe rumah jam set 9 malem loh temaan. pembuat jadwal lab faal memang tidak memikirkan kaum2 perempuan tertindas yg harus pulang malam sendirian seperti gue T___T
Dan yg paling penting adalah, wahai sodara2, berapa banyak ongkos yg harus gue keluarkan? duit jajan gue cuma diitung untuk 5 hari kuliah (sedangkan gue masuk 6 hari seminggu) belom lagi ongkos untuk fotokopi modul.

Kok gue kuliah begini amat ya. Mau nyesel nanti dibilang ga bersyukur. Yasudahlah, salam aja buat para pembuat jadwal lab (lab apapun itu) coba pikirkan nasib kaum2 tertindas seperti gue. sekian.

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts