Skip to main content

Berputar


 Kata - kata itu gue dapet dari kaos yang terpajang di pasar dekat stasiun Duri. Bukan berarti gue belom move on ya, tapi gue cuma menghimbau kaum-kaum galauers yang masih belum move, hellooo its already 2012 and 'stay' is not a good options. Keep moving and rounding.
Jadi, post kali ini judulnya berputar. Kenapa berputar? Karena gue baru menyadari arti kata - kata 'hidup itu seperti roda yang berputar'.
Mungkin hari ini lo ada diatas roda itu, melihat dengan leluasa, tapi besoknya lo udah ada di bawah roda dan merasakan sakitnya berada di bawah.
Uwooo tenang. Gue ga akan membahas sedalem itu. Gue cuma ... baru menyadari kalo gue lagi berputar. Susah ngejelasin situasi sebenarnya, tapi satu hal yang pasti : lo ga akan menyadari kalo lo sedang berputar kalo lo belum sampe di sisi yang berbeda 180 derajat dari sisi lo sebelumnya. 

Coba bayangin lo ada di roda sepeda. Lo ada dibagian atas, leluasa melihat ke atas langit. dan tiba - tiba rodanya bergerak. Lo ikut bergerak. Lo ga sadar kalo roda terus bergerak karena lo terlalu asik melihat - lihat. Ke bawah, ke bawah, terus kebawah, sampe lo ada di dasar roda. Tertindas dan hanya bisa melihat kebawah.
Sekarang mari kita analogikan roda tadi dengan hidup lo. Sekarang lo adalah orang yang pinter, cakep, punya pacar, kaya. Lo begitu asyik menikmati semuanya, ga berasa kalo perlahan-lahan, lo sedang bergerak ke bawah. Pelan, pelan, dan lo masih ga sadar. Saat lo udah tiba di dasar, ketika lo ga sepinter yang dulu, putus dengan pacar, orangtua bangkrut, lo baru sadar kalo lo udah ada di dasar roda. Lo begitu terpuruknya berada di bawah, menangisi kegagalan lo. Tiba - tiba roda bergerak lagi, tapi kali ini lo sadar. Lo sadar kalo lo sedang berputar kembali ke atas, dan lo mulai melihat ke sekeliling. Bukan lagi melihat ke atas, atau ke bawah. Tapi melihat ke sekeliling. Dan lo baru sadar, looking around is better than looking up or down.
Melihat sekeliling membuat lo sadar akan posisi lo. 

Ngerti? Ga ngerti ya? Yaudahlah, kalian kan ngerti gue itu suka ga jelas, jadi mohon dimaklumi. Buat yang ngerti, selamat udah mengerti bahasa gue yang sulit dimengerti.
Post ini, bukan cuma buat kalian yang baru putus cinta dan desperate karena ga punya pacar. Post ini ditujukan buat kalian yang sedang buncah, karena alasan apapun. So keep rounding!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts