Skip to main content

chit chat


Udah dua hari ini gue pulang sore pas UTS. Bukan karena belajar bareng, tapi keasyikan ngobrol sama temen semacam Tama dan Gege. Apa yang kita omongin? Yaa macem - macem sih, mulai dari ngomongin orang, ngomongin kampus, ngomongin dosen, pokoknya banyak deh.
Tapi kali ini, porsi ngomongin orang nya begitu sedikit. Gatau karena emang lagi ga ada gosip, gatau karena kita sendiri males ngomongin yang itu - itu lagi. Jadilah, kebanyakan kita ngomongin tentang hidup (cieeee).

Baik Tama maupun gue, setuju bahwa masa - masa tidak diterima PTN adalah masa suram sekaligus masa berharga dimana kita belajar memaknai hidup lebih dalam lagi. Kenapa? Karena disitulah gue, seseorang yang tadinya bersyukur aja dengan segala yang gue punya, tiba - tiba mengalami krisis kepercayaan diri yang akut. Merasa bodoh, merasa ga berharga, dan merasa minder sama temen - temen gue yang masuk PTN. Gue sebisa mungkin menghindar dengan teman-teman gue (bahkan teman semacam monda-pelangi-anna :*), dan menghindari twitter dalam waktu yang saaaangat lama karena sakit hati melihat TL dipenuhi teman-teman yang membanggakan PTN yang baru menerimanya. Gue berpikir : coba gue milih fakultas lain yang peminatnya ga sebanyak psikologi, mungkin gue akan keterima juga.

Waktu pertama kali masuk kuliah pun, gue setengah - setengah. Yaaa agak males dengan kampusnya, dengan temen - temennya, dengan ospeknya, dengan kakak-kakaknya. Gue merasa kayaknya gue ga akan bisa maksimal kuliah disini, karena hati gue jelas - jelas kepingin belajar di kampus sebelah. Tapi, ketika masuk kuliah perdana, semuanya berubah. Entah kenapa, waktu dosen - dosen itu ngomongin psikologi, gue seneng banget. Gue terharu. Gue merasa, this is where I belong to. Gue terharu karena gue merasa ga salah jurusan. Mungkin kalo digambarin di komik, mata gue berbinar-binar saat si dosen - dosen itu cerita soal Psikologi.

Seandainya itu kuliah bersama Fisika, atau Kimia, mungkin gue akan tidur. Atau terharu karena ga ngerti. Tapi karena ini adalah minat gue, gue masih inget materi yang dijelasin waktu itu : Aliran psikologi, Pavlov dan air liur anjingnya, dan si Sigmund Freud. Gue inget itu sampe sekarang, dan mungkin memorinya masuk ke Long Term Memory. Seandainya itu adalah kuliah bersama Geografi, atau Matematika, mungkin cuma akan masuk ke memori sensoris -______-

Lalu mulai masuk kuliah. Awalnya ogah - ogahan untuk terlalu attach sama temen-temennya. Males, karena sepertinya mereka ga mikirin PTN seperti gue. Gue bertekad mau ikut SNMPTN lagi tahun depan, karena gengsi kuliah di tempat gue sekarang. 

Tapi janji - janji itu luluh juga, karena ternyata, temen - temen di PA06 adalah teman - teman yang sangat baik, yang mengerti gue dan obsesi kuning gue, dan menerima gue seperti Monda-Naura-Diah-Anna menerima gue. Gue merasa nyaman, meskipun gue masih kepingin ikut SNMPTN lagi. Gue belum benar - benar move on.

Masa - masa belajar pelajaran yang berbau psikologi adalah masa - masa paling menyenangkan buat gue. Gue termotivasi belajar karena gue suka banget sama pelajarannya, dan bukan cuma ngejar nilai 75 kaya dulu SMA. Mungkin, kalo gue asal masuk PTN, Gue akan belajar untuk mendapat nilai A, bukan belajar karena gue suka dengan pelajarannya. Gue ga salah jalan.

Nah, karena suka dengan pelajarannya, dan merasa gue bisa bertahan disitu sampe SNMPTN tahun depan, gue mulai membuka diri lagi. Gue mulai ngobrol lagi sama geng greenhouse-er, dan mulai buka twitter lagi. Terus gue mulai deket sama temen-temen gue di PA06, dan mulai ngomong panjang lebar dari hati ke hati sama mereka. Dan, obrolan gege tentang masa tersesatnya dia di PTN cukup menarik hati gue. Sebelum kuliah disini, ternyata Gege kuliah di PTN. Tapi dia cabut, karena merasa passionnya tidak cukup kuat disitu, meskipun dia juga nggak nyesel pernah kuliah disana. Tahun depannya (masa gue ikut penerimaan PTN), dia diterima lagi di PTN, tapi dia nggak ambil karena dia ga mau ambil kesalahan yang sama. Dia tahu gue masih terobsesi PTN, dan dia pernah bilang ke gue : warna jaket ga menentukan kesuksesan, kita lah yang menentukan kesuksesan itu. Itu udah lamaaa banget, tapi gue masih inget betul, dia ngomong itu pas kita jalan menuju stasiun Pocin. Kata-katanya mengena banget di gue. Lalu gue inget kata Monda : belajar dimana pun sama aja, yang penting itu apa yang kita pelajari. Teringat lagi kata Icha : 4 tahun itu lama. Jangan sampe nyesel karena belajar apa yang nggak mau kita pelajari. Oh iya teringat juga cerita kakaknya Tama yang salah jalan karena diterima di fakultas yang bukan passionnya.

Kata - kata dari temen-temen gue itu, menggerakkan hati gue. Gue senang, Allah membelokkan jalan gue kesini. Karena, kalo nggak, gue ga akan sadar bahwa banyak hal yang harus gue syukuri : Pertama, gue punya temen-temen yang ga berhenti mensupport gue. Monda, Anna, Naura, Diah, Pelangi, dan lain - lainnya, yang mau menyempatkan diri ada di samping gue yang sedih saat mereka ada di masa euforia keterima PTN. Kedua, gue berada di tempat yang pas sekarang. Karena belajar dengan hati, hasilnya pun alhamdulillah baik, gue dapet IP yang kalo dulu cuma ada di awang-awang gue. Ketiga, dan ini yang paling berharga, gue bisa belajar baaaanyak hal dari kejadian-kejadian itu : bahwa jalan kita ga selalu lurus seperti apa yang kita mau. Seperti di game mario Bros (tau kan?) kalo kita menyempatkan diri mengeksplor masuk ke pipa - pipa, kita akan nemuin lebih banyak koin seperti saat kita berjalan cuma mengikuti alur. Kadang membuat kita mencapai finish lebih cepat, kadang juga malah membuat finish lebih lama. Analogikan dengan hidup gue waktu itu. Gue, yang tadinya selalu jalan lurus, tiba - tiba dimasukkan kedalam pipa yang gelap, dan voila! begitu banyak koin yang gue dapatkan. Gue ga tau lewat jalan ini akan mempercepat gue untuk sukses atau nggak, tapi gue sekarang udah percaya diri lagi, bahkan sekarang gue menjadi orang yang tau kurang-lebihnya gue gimana, dan jalan mana pun yang Allah siapin buat gue, insya Allah, gue berani melewatinya.

Yes, yes, yes, you made a big mistake
No, No, No, you don't need to shiver and shake
All you need to know that you can learn from your mistake

Comments

  1. (Y) lah :D
    tetep semangat lah!
    kita bisa mencapai mimpi kita, dimana aja! :D :D

    ReplyDelete
  2. btw, itu lagu apaan lah yang terakhir itu?

    ReplyDelete
  3. waaaaaa. ilah galau...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts