Skip to main content

SAGA 2013

SMPS03, sunset and statistics
Mungkin gue pernah cerita bahwa gue bersyukur pindah ke Simatupang. Ya, kalo nggak pindah ke Simat, mungkin gue ga akan ketemu sama 14 manusia ajaib yang udah gue anggap keluarga ini. SMPS03.
Tapi, sesenang apapun gue disitu, gue mulai nyadar bahwa lingkup pergaulan gue
di Simat terlalu sempit. Bayangin, sekelas gue cuma ada 14 orang dan itu cewe semua. Gue gamau selama tiga tahun disitu gue cuma kenal sama lima belas orang aja. Padahal, di simat itu ada banyak banget kelas dari berbagai jurusan yang beda – beda. TM, TI, TE, Sasing, SI, dan Akun. Belum lagi Teknik Sipil yang ada di Depok. Tapi ga satupun yang gue kenal.

Semuanya berawal dari sebuah twitter angkatan.

Ya, rencana acara saga ini cuma berawal dari sebuah twitter. Selama ini banyak sih yang nyaranin buat adain acara angkatan, tapi baru kali itu idenya bener-bener terealisasikan. Mungkin ini pertama kalinya gue ikutan jadi perintis acara kaya gini. Ga ada organisasi yang menaungi, ga ada kucuran dana yang pasti. Cuma berbekal orang – orang yang punya visi dan misi yang sama dalam menyatukan sebuah angkatan #tsaaah.
Rekrut panitia juga ga gampang. Ada kelas yang banyak partisipannya, ada juga yang mesti diminta berkali-kali. Tapi akhirnya panitia kebentuk, meskipun saat itu kita sendiri masih bingung mau bikin acara apa, dimana, kapan, dan gimana dananya. Bener-bener blank.
Gue ga bilang bikin acara ini gampang. Ketahuilah bahwa membuat sebuah gathering itu ga pernah gampang. Gue bercermin dari acara gathering di SMA gue dulu. Maksudnya, yang namanya gathering itu selalu dianggap ga penting. Cuma buang duit, buang waktu, toh kita bisa kenalan sendiri tanpa harus ikut gathering. Semua jenis acara pasti punya kesulitannya tersendiri sih, tapi sebuah gathering itu … konfliknya diatas rata-rata. Gue ga bisa bilang disini konfliknya apa, tapi yang jelas kita udah belajar dari situ. Dan konflik itulah, yang entah kenapa justru bikin tekad kita lebih kuat buat bikin acara ini berhasil.
The Crew :)

Hasilnya? Dilihat dari respon – respon yang keliatan sih mungkin bisa dikatakan sukses. Tapi kan gue gatau gimana respon – respon yang ga keliatan, atau respon – respon yang bahkan tak terucapkan. Yang jelas, pintu – pintu kelas itu udah 'terbuka'. Mungkin biasanya kita merasa canggung buat masuk ke kelas lain, atau mungkin malu untuk bahkan sekedar senyum kalo ketemu sesama sarmag 2011. Gue ga bisa bilang rasa canggung itu udah ilang sama sekali, tapi minimal udah berkurang. Kita jadi ga terlalu sibuk sama laptop dan punya dunia sendiri dengan kelas masing-masing. Harapan gue, efek pasca saga ini ga cuma bertahan sehari, dua hari, atau cuma seminggu. Gue harap efek ini sampe kita lulus S2 bareng. Atau bahkan lebih.

Salam 2 gelar!


Sarmag 2011!

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts