Skip to main content

Silence (1)


Shera membaca kembali cerpen yang baru dibuatnya. Menurutnya, ini ide yang tidak masuk akal dan tidak akan berhasil.
Tidak masuk akal, karena 'menyatakan perasaan' lewat cerita adalah cara yang sangat kuno dan kekanakan.
Tidak akan berhasil, karena orang itu tidak mungkin membaca ceritanya. Tentu saja. Seorang Erga Prasetya yang sangat serius, mustahil membaca majalah remaja.
"Namanya juga usaha, Sher. Ga ada salahnya kan?"
Begitu kata Fara ketika Shera menyatakan bahwa idenya itu mustahil untuk dilaksanakan.
"Lagipula, Erga belum tentu sadar sama kode lo yang minimalis itu. Plis deh Sher, ini tuh jamannya perempuan yang maju duluan!" Ucap Fara dengan berapi-api.
Shera menatap layar laptopnya. Ia hanya butuh menekan tombol send, dan cerita setengah curhatnya itu akan muncul di majalah Aksara minggu depan.
Shera menimbang - nimbang. Ya, tidak. Ya, tidak.
Benar kata Fara. Erga belum tentu sadar kalau yang ia ceritakan disitu adalah dirinya. Shera sudah sedemikian rupa mengubah sosok Erga menjadi siswa SMA berkacamata.
Ah, inilah salah satu keuntungan menjadi penulis. Tidak ada yang tahu kapan kau bercerita mengenai orang lain dan kapan kau bercerita tentang dirimu sendiri.
"Heh. Malah ngelamun. Ayo, cepet send! Udah ditungguin sama nek Lampir, kan?"
Deadline cerpen dua jam lagi. Shera yakin, jika ia membuka drivenya ia akan bisa menemukan cerita lain yang sama bagusnya dengan cerita yang kini terpampang di laptopnya.
"Duh, kelamaan!" Fara ambil tindakan dan mengklik tombol send. Shera memekik. "Faraaa! Kan gue belum siaaap!!"
Ia memandang layar laptopnya dengan syok.
"Sampe kapan lo siap? Udah terhitung satu taun lu suka sama dia, 6 bulan kenal sama dia. Ini cuma sentilan dikit buat Erga. Biar dia sadar, ada orang yang setia perhatiin dia dari jauh"
Shera tidak lagi mendengar perkataan Fara. Ia memandang kosong ke layar laptopnya.
Satu tahun?
Jadi sudah selama itu ya ...

***
The sun is shining bright, but your smile shines my day more brightly *.*

Erga tersenyum tipis membaca tulisan di layar laptopnya. Di zaman globalisasi ini, diusianya yang mendekati seperempat abad, ternyata masih ada gadis yang berpikiran sesempit itu.
Mungkin gadis itu terlalu banyak berimajinasi, atau terlalu mabuk dengan novel-novel Nicholas Spark yang menjual bentuk cinta yang tidak masuk akal.
Gadis itu tidak pernah menyapanya duluan. Melihat Erga ia langsung kabur. Tapi anehnya, gadis itu berbicara tentang Erga terlalu banyak di blog pribadinya.
Tentu saja Erga tau kalau yang gadis itu sebut dengan sebutan Bipolar, adalah dirinya.
Lalu .. gadis itu berharap Erga tertarik padanya?
Pada gadis penjual mimpi itu?
Pada gadis yang selalu terlihat salah tingkah ketika ia berada di sekitarnya?
Dan gadis itu, dengan naifnya, menganggap Erga tidak tahu segalanya. Tentu saja Erga tahu.
Ia tahu, karena gadis itu selalu memposting status sehabis bertemu dengannya. Gadis itu juga sering mengunjungi blognya, dan kemudian memposting status yang berhubungan dengan post Erga di blog.
Tidak sampai disitu, gadis itu juga terlihat murung ketika Erga mengobrol dengan Rui. Gadis itu bukan siapa-siapa bagi Erga! Ia tidak berhak terlihat seperti itu ketika Erga bersama gadis lain, kan?
Erga menscroll timeline nya. Ada status baru yang diposting gadis itu.

It's been a year, huh?

Erga mengeryitkan kening.
Satu tahun? Benarkah sudah selama itu?
*

Post baru. Shera memekik dalam hati. Sudah hampir sebulan Erga tidak menulis apa-apa di blognya, mungkin karena ia sibuk meliput kebakaran hutan di Kalimantan, seperti yang dipost lelaki itu di halaman twitternya dua minggu yang lalu.
Deg!
Shera membaca kembali judul postingan itu, tidak percaya. 

A year.

Baru satu jam yang lalu Shera memposting status di halaman twitternya, mengenai satu tahun yang sudah berlalu. Lalu, satu jam kemudian, lelaki itu memposting dengan judul yang tidak jauh berbeda. Apakah ada hubungannya? Ataukah hanya sebuah kebetulan? 
Dengan hati berdebar-debar, Shera mulai membaca tulisan itu.


A year.

Tidak terasa, sudah setahun saya menjadi bagian dari koran Selamat Pagi. Menjadi editor di koran sebesar ini adalah suatu kebanggaan besar buat saya. Bagaimana tidak, saya ini adalah lulusan Fisika, bukan keluaran jurusan jurnalistik atau sastra Indonesia. Akan tetapi, karir saya selama berada di klub menulis di universitas lah yang membantu saya meraih posisi ini.


Shera membaca postingan itu perlahan - lahan. Hatinya berharap. Mungkin, di sela - sela tulisan itu, terselip sesuatu yang mengisyaratkan dirinya.
Tapi nihil. Sisa tulisan itu hanya menceritakan kisah lelaki itu ketika berada di klub menulis universitasnya.
Shera membodohi dirinya sendiri. Tentu saja, Erga bukanlah orang yang akan memposting hal-hal sepele. Lagipula, Erga juga tidak mungkin menulis sesuatu tentang dirinya.
Tapi .. mengapa hatinya terus berharap, suatu hari Erga melihat dirinya?
Salahkah menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu dirinya sedang ditunggu?
*

Acara ulangtahun Readbooks. Semua karyawan dari anak perusahaan Readbooks berkumpul, termasuk koran Selamat Pagi dan Majalah Aksara. Shera mematut dirinya di depan cermin. Ia harus tampil cantik hari ini, karena ia akan menerima penghargaan atas cerpennya yang banyak menerima tanggapan positif dari pembaca. Shera menyisir rambutnya. Akan tetapi, rambut itu tidak mau menuruti keinginannya, membuat riasan di wajah Shera tampak kontras dengan rambutnya yang berantakan.
Ah, percuma saja!
Akhirnya Shera menyerah dan bergegas menuju ruangan serbaguna tempat acara dilaksanakan. Ada begitu banyak orang. Shera tidak pernah mengira bahwa karyawan Readbooks sebanyak itu. Untunglah, ditengah kerumunan itu ia berhasil menemukan Fara.
"Rambut lo kenapa, Sher?" Ia bergidik ngeri melihat rambut Shera yang mencuat kesana kemari.
"Bad hair day .." jawab Shera seadanya. Ia berusaha merapikan rambut sialan itu dengan menyisir menggunakan jari, tapi tidak juga berhasil.
"Gue nyerah!"
"Nyerah? Sher, lo ga bisa keliatan ga kece hari ini! Liat dong ada berapa cowo di ruangan ini yang kemungkinan jadi pasangan hidup lo nanti?"
Shera tersenyum miris. Lagi-lagi, Fara berbicara soal pasangan hidup. Boro-boro pasangan hidup, ia bahkan tidak dekat dengan siapapun saat ini. Shera sempat berpikir bahwa sepertinya tidak ada lelaki di dunia ini yang memiliki tipe perempuan seperti dirinya.
"Shera Andini!"
Karena terlalu sibuk dengan Fara, Shera tidak memperhatikan bahwa sudah waktunya ia naik panggung. Maka, dengan usaha terakhirnya Shera berusaha merapikan kembali rambutnya, dan berjalan seanggun mungkin menuju panggung. Apakah Erga melihatnya?
Sesampainya di atas panggung, mata Shera mencari - cari Erga. Dimana lelaki itu? Apakah belum datang?
Ah, itu dia!
Lelaki itu duduk di deretan paling belakang bersama rombongan redaksi Selamat Pagi. Beberapa orang dari gerombolan itu memperhatikannya. Restu bahkan mengangkat kedua jempolnya kepada Shera.
Hampir semuanya sedang melihat ke arah panggung, kecuali beberapa orang yang tidak Shera kenal, termasuk ... Erga.
Lelaki itu sibuk dengan handphone nya, sama sekali tidak menyadari keberadaan Shera di atas panggung.
Hati Shera mencelos. Ia berusaha tetap menegakkan bahunya, menunjukkan bahwa itu bukanlah hal besar. Dari dulu ia bertekad akan selalu mementingkan karirnya daripada terjebak kesedihan karena cinta. Jadi, ia tidak peduli jika Erga tidak peduli dengan apa yang dicapainya.
Begitu yang seharusnya, kan?
*

Timeline twitter Erga mendadak penuh dengan ucapan selamat untuk gadis itu.
"Selamat! Lo resmi jadi penulis kece!"
"Ciee cerpen favorit banget nih?"
"Traktir! Ingat, cerpen kamu pake namaku loh, Sher :p"
Ucapan itu juga mengalir di Facebook dan Path. Intinya, malam itu Erga melihat nama gadis itu dimana - mana. Beberapa temannya bahkan memposting video gadis itu ketika menerima penghargaan. Rambut gadis itu terlihat berantakan. Ia bahkan hampir tersandung saat menaiki tangga menuju panggung. 
Erga tertawa kecil. Dasar ceroboh!
Erga tidak melihat langsung penyerahan itu. Entah kenapa, ketika nama gadis itu dipanggil, ia lebih memilih untuk memainkan handphonenya.
Sejujurnya, ia sedikit merasa bersalah. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah temannya juga. Ia juga mengucapkan selamat ketika Fara, teman dari gadis itu berulang tahun.
Tapi ia tidak mau gadis itu salah paham. Gadis itu kan memiliki harapan setinggi gunung kepada dirinya. Jadi, Erga mengurungkan niatnya.
Mungkin besok, batin Erga. Toh ia selalu bertemu gadis itu dalam lift, kan?
*

Takdir memang selalu mempertemukan Shera dan Erga di dalam lift. Entah apa yang berada di benak Takdir ketika memutuskan seperti itu.
Pagi ini adalah pagi yang sempurna untuk Shera. Tadi, saat ia memasuki gedung Readbooks, beberapa orang mengucapkan selamat kepadanya. Beberapa lagi bahkan sedang menenteng majalah Aksara terbaru dan memuji tulisan terbarunya.
Ya, tulisan setengah curhat itu telah naik cetak, dan mungkin kini sudah tersebar di seluruh Indonesia. Seakan belum cukup kebahagiaan yang ia terima pagi ini, orang yang selalu ditunggunya menampakkan diri tepat ketika lift yang Shera tumpangi akan menutup.
Tidak ada penghuni lain dalam lift itu. Hanya mereka berdua, dan kesunyian yang menyesakkan dada Shera.
"Gue baca tulisan lo yang terbaru."
Erga lah yang memecahkan kebisuan itu. Matanya menatap majalah Aksara yang ditenteng Shera.
Bum!
Sebuah bom besar seakan menimpa dada Shera.
"Gimana pendapatmu?" Shera bertanya takut-takut. Bagaimana jika lelaki itu tahu? Ah, mau ditaruh dimana muka Shera sekarang? Shera yakin wajahnya kini sudah semerah tomat.
Erga mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum, memamerkan lesung pipit dikedua pipinya.
Harapan itu naik, melambung tinggi. Sejuta kupu – kupu berdesakan di perutnya.
“Begitu aja? Ga ada komentar lain dari editor Selamat Pagi yang terkenal?” tanya Shera lagi.  
"Bagus, sesuai sama pembacanya." Jawab Erga.
Jawaban Erga mengubur dalam-dalam harapannya. Dalam hati kecilnya, Shera berharap Erga tahu. Karena jika Erga tahu, maka lelaki itu setidaknya menyadari kehadiran Shera.
Ting!
Lift telah sampai di lantai yang dituju Erga.
"Duluan ya," ucap lelaki itu, meninggalkan lift ketika pintunya terbuka. Ia tersenyum beberapa detik sebelum akhirnya  pintu lift tertutup kembali, meninggalkan Shera dengan harapan – harapan bodohnya yang kini tertimbun di dalam tanah.
***
Sebuat post it kecil berwarna kuning tertempel di atas meja Shera. Itu bukan post it punya Nek Lampir atau Fara. Shera mengenali tulisan kedua orang itu. Terlebih lagi, sebuah muffin cokelat tergeletak manis di samping post it tersebut. Shera mengambil post it itu dan membacanya.

A sweet little thing in your sweet morning.
-E-

Shera membelalakkan matanya. Siapa pengirimnya? Shera belum pernah memilki pengagum rahasia sebelumnya. Lalu … E?
Siapa itu E? Apakah …. Erga?
Bolehkah Shera menerbangkan kembali harapannya yang sudah terkubur?
“Elang”
Shera menoleh dan mendapati Fara sudah terduduk di kursinya. “Namanya Elang. Anak Bisnis Harian. Gue liat waktu dia naruh ini di meja lo.”
“Lo yakin dia ga salah alamat? Mungkin aja harusnya dia kasih ini ke mejanya Ami, atau lo ..”
Ami dan Fara memang primadonanya majalah Aksara. Hal – hal seperti ini biasanya Cuma dialami mereka berdua. Ini pertama kalinya seseorang melakukan sesuatu yang dapat dikategorikan romantis untuk Shera.
Fara gemas melihat ketidakpedean sahabatnya itu. “Ga mungkin ini buat gue atau Ami. Yang semalem nampang di panggung itu kan elo, Sher. Plis deh. Ciee punya secret admirer. Udah Sher, lupain aja si Erga. Dia terlalu ga peka.”
Shera tersenyum samar. Ah, seandainya melupakan Erga semudah membalikkan telapak tangan. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki itu, ketika takdir selalu mempertemukan mereka?
***
Takdir kembali mempertemukan Shera dan Erga siang itu. Shera dan Fara sedang melongok mencari kursi kosong di kantin, ketika tiba – tiba Andra melambaikan tangan ke arah mereka, menunjukkan kursi kosong disampingnya.
Dua kursi kosong, tepat di depan Erga.
Dengan semangat 45 Fara menghampiri kursi itu. Ia menyikut Shera dengan kencang, memberi isyarat baginya untuk ikut juga menghampiri gerombolan redaksi Selamat Pagi.
“Traktir dong Sher, kan lo abis dapet duit penghargaan.” celetuk Gifa ketika Shera sampai di meja mereka.
“Traktir kerupuk aja, ya Sher? Kan enak, garing kaya hidup lo Gif. Hahahahaha”  celotehan Fara membuat Gifa, Andra, dan Restu tertawa.
Termasuk Erga.
“Ga usah, Far. Gue daftarin aja kalian semua ke biro jodoh. Jomblo semua, kan?” ucap Shera. Ia tersenyum senang melihat wajah dongkol teman – temannya itu. Sekumpulan tisu melayang ke arahnya, kemudian tawa miris dari mereka semua.
Semua tertawa. Hanya Erga yang tersenyum tipis dan sibuk dengan makanannya.
Tentu saja, Erga akan tertawa pada celotehan Fara, Dea, atau Ami. Tapi Erga tidak akan pernah tertawa pada celotehan Shera. Mungkin lelaki itu mengira Shera adalah perempuan paling membosankan di seluruh dunia.
Tiba – tiba Fara berdeham. “Eh, tau ga. Tadi pagi Shera dapet kiriman muffin loh. Mungkin sebentar lagi dia ga akan jomblo lagi ..”
“Waah Shera ga single? Shera kan ratunya gacin di Readbooks!” ucap Restu.
Shera melempar tisu kea rah lelaki itu. “Heh! Enak aja gue dibilang ratu gacin!”
Tapi .. benar juga. Karena cerpennya selalu tentang patah hati, atau mengandung unsur patah hati, ia jadi terkenal dengan julukan itu.
Gifa dan Andra tertawa. “Kalo Shera jadian, mungkin seantero Readbook harus syukuran.” tambah Andra.
Shera ikut tertawa. Dari sudut matanya, ia melihat kea rah Erga.
Lelaki itu tidak ikut tertawa. Ia (lagi – lagi) hanya tersenyum tipis. Makanannya sudah habis, tapi kini ia sibuk dengan handphonnya.
Percuma saja, kan?
Sebesar apapun perhatian dunia tertuju ke Shera, Erga tidak akan pernah memperhatikan Shera. Kenyataan itu seperti pil pahit yang membuat gado – gado di depan meja Shera tidak lagi terlihat nikmat.
Mungkin ia memang harus menyerah.
Sudah satu tahun, dan ia tidak bisa terus – terusan dipermainkan oleh harapannya sendiri. Mencintai sendiri, patah hati sendiri. Nasib menjadi pengagum rahasia.
***
Maybe it’s time to stop.

Kata – kata itu terpampang di halaman twitter gadis itu, membuat Erga bertanya – tanya apa maksudnya.
Berhenti? Berhenti apa?
Seakan bisa membaca pikirannya, gadis itu kembali memposting sesuatu di blognya. Judulnya sama persis. 

Mungkin ini waktunya berhenti.
Berhenti berharap, berhenti mengharap.
Senyum sopan itu, seharusnya aku tidak pernah mengartikannya sebagai senyuman yang spesial.
Sikap acuhmu itu, seharusnya aku sadar bahwa itu adalah isyaratmu bahwa kamu tidak nyaman ketika berada di dekatmu.
Kupu – kupu yang beterbangan di perutku setiap kali bertemu denganmu harus segera diberi gas beracun sehingga mereka tidak lagi menggangguku.
Tapi .. bagaimana dengan jantung yang berdebar, dan lutut yang lemas ketika aku melihat senyummu itu? Haruskah aku melumpuhkan mereka juga?
Mungkin butuh waktu.
Kata orang, kita hanya butuh dua detik untuk jatuh cinta kepada seseorang dan membutuhkan dua bulan untuk melupakannya.
Dua bulan bukanlah waktu yang sebentar, tapi aku ingin mencoba.
Jika melupakanmu adalah keputusan terbaik, kenapa tidak?

Erga membaca post itu lamat – lamat.
Gadis itu .. mau berhenti?
Baguslah! Akhirnya gadis itu sadar kalau Erga tidak tertarik padanya.
Lagipula, siapa suruh mencintai tapi tidak memperjuangkan?

Sepuluh menit berlalu, sebuah komen masuk di halaman blog yang didominasi warna ungu itu.

Berhenti ..
Jadi, waktunya memikirkan yang lain, kan?
;)
-Elang-

Sesuatu bergemuruh di dada Erga.
Elang?
Siapa itu Elang?

***Bersambung***

Comments

  1. ga sopan kalo udah serius baca tapi ga komentar..hehe
    ditunggu lanjutannya...
    btw, great gacin story :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts