Skip to main content

Silence (2)


Post it lagi. Elang memang rajin sekali mengirimkan post it berwarna warni dan 'makanan kecil' ke meja Shera. Kali ini berwarna pink, disertai dengan sepotong cheesecake.

Shera Andini lebih suka keju daripada cokelat.
Noted :)
-E-

Shera tersenyum. Elang pasti membaca postingan blognya semalam, yang isinya membandingkan keju dan cokelat.
"Duh, yang lagi berbunga-bunga .."
Fara mencomot post it yang dipegang Shera dan membacanya. "So sweet banget deh si Elang. Nanti lo pulang bareng dia?"
Shera menggeleng. "Gue mau nyaring tulisan buat Youth. Gabisa pulang cepet."
Youth adalah sebuah rubrik baru bagi remaja di koran Selamat Pagi yang terbit seminggu sekali. Sudah beberapa hari ini Shera membantu Restu dkk untuk mengurus rubrik itu. Shera sih senang-senang saja mengerjakan itu, tapi masalahnya, di proyek kali ini ia harus banyak berhubungan dengan lelaki yang dulu membuatnya bertekuk lutut.
Sudah tiga bulan berlalu sejak Shera bertekad melupakan lelaki itu.
Jujur saja, melupakan Erga bukanlah hal yang mudah karena frekuensi mereka bertemu terlalu sering. Di lift, di kantin, dan kini di ruang rapat redaksi Selamat Pagi ketika Shera ikut membahas perkembangan rubrik Youth.
Kehadiran Elang memang sangat membantu. Hal - hal kecil yang dilakukan lelaki itu selalu sukses membuatnya tersenyum. Kata-kata manis di post it, kue - kue, serta ucapan selamat tidur dan selamat pagi yang tidak pernah lupa Elang kirimkan untuk Shera. Hanya saja, semua itu seakan tidak cukup untuk membendung rasa mual setiap kali Shera berhadapan dengan Erga.
Shera menghembuskan nafas panjang. Kapan Erga Prasetya kehilangan pengaruhnya terhadap Shera Andini?
*

Elang lagi, Elang lagi.
Entah sudah berapa kali Erga melihat nama itu di halaman blog gadis itu. Lelaki itu dengan sangat rajin mengomentari tulisan gadis itu, bahkan sampai ke tulisan yang diposting satu tahun yang lalu. Elang sepertinya benar - benar tergila - gila pada gadis pemimpi itu.
Mereka memang cocok, batin Erga. Elang dan Shera. Shera dan Elang. Mereka adalah pasangan yang sama-sama tergila - gila dengan cinta.

Pasangan? Mau tidak mau Erga harus mengakui kalau ia tidak suka menyebut mereka sebagai pasangan. Ia juga tidak suka membayangkan gadis itu dimabuk cinta dengan Elang.

Tidak. Gadis itu tidak jatuh cinta kepada Elang. Cinta Elang hanya bertepuk sebelah tangan, karena gadis itu jelas - jelas masih menyukai Erga. Ia masih sering menulis nama bipolar di blognya. Gadis itu tidak pernah menyebut nama Elang, atau nama panggilan lain yang mengisyaratkan Elang. Hanya ada nama Bipolar. Bagaimana gadis itu berusaha menjaga jarak dengan bipolar, mencoba melupakan lelaki yang sudah membuatnya putus asa itu. Tulisan – tulisan gadis itu membuat ego Erga sebagai lelaki melambung tinggi. Bayangkan, gadis seistimewa Shera Andini berusaha setengah mati untuk melupakan dirinya!
Kemarin, Erga sudah mencari tahu soal Elang. Lelaki itu usianya tiga tahun lebih tua daripada gadis itu. Selain itu, Elang juga tidak pintar dan sering terlambat. Sejak masuk ke Readbooks tiga tahun yang lalu, lelaki berkacamata itu belum pernah naik jabatan. Pekerjaannya stagnan. Berbeda dengan Shera, yang karirnya melesat tinggi sejak masuk ke Readbooks. Tulisannya selalu mendapat pujian. Konon penjualan majalah Aksara naik pesat sejak gadis itu menyumbangkan cerpennya.
Jadi, gadis itu tidak cocok dengan Elang. Gadis itu sebaiknya mencari lelaki lain yang sepadan dengannya, seperti ...
Seperti siapa?
Seperti gue, batin Erga.
Ah, tapi sayang sekali kan Erga tidak tertarik dengan gadis itu?
*

Jam sembilan kurang lima belas menit. Kali ini Erga benar – benar terlambat. Ia ada rapat untuk rubrik Youth bersama bang Ramli dan staf lainnya jam setengah Sembilan. Sial. Ia pasti ditegur Bang Ramli. Seniornya yang satu itu memang tidak bisa mentolerir keterlambatan. Untunglah, ketika Erga sampai di  lobby, pintu lift terbuka lebar. Lumayan, ia menghemat dua menit yang biasa digunakannya untuk menunggu lift. Ia sedang memencet tombol 15 ketika matanya menangkap sosok yang begitu familier di kepalanya.
Setengah berlari gadis itu menuju lift. Rambutnya yang selalu berantakan itu dikuncir kebelakang seadanya. Mata Erga  bergidik ngeri melihat sepatu yang digunakan gadis itu.
Lari dengan sepatu high heels?
Kaum perempuan memang memiliki kemampuan luar biasa dalam menahan sakit.
Ini bukan kali pertama gadis itu mengenakan high heels. Hari pertama mereka bertemu pun, gadis itu memakai high heels yang sama seperti yang dipakainya hari ini.
Gadis itu mengucapkan hey pelan dengan nafas yang masih terengah - engah. Erga membalasnya dengan tersenyum.
"Terlambat juga, Sher?”
"Iya. Tadi ada yang ketinggalan di rumah, jadi harus balik lagi. Mati deh kita dimaki – maki sama bang Ramli"
Erga tersenyum kecil sambil memandangi lantai dibawahnya.
Selalu begitu, kan? Seminggu yang lalu gadis itu lupa membawa ID Card sehingga tidak bisa masuk. Lalu, baru kemarin gadis itu meninggalkan handphonenya di kantin. 
Aneh, gadis itu sering sekali kelupaan sesuatu. Semakin aneh karena gadis itu selalu melapor ke jejaring sosial setiap kali ia lupa, membuat Erga gemas ingin menoyor kepalanya.
"Lain kali, cek dulu sebelum berangkat Sher" ucap Erga.
“Iya, ga.” Gadis di sebelahnya itu mengangguk, dan pipinya bersemu merah muda.
Erga mengutuk dirinya sendiri. Harusnya ia tidak mengatakan hal itu! Pasti gadis itu mengira kata – kata Erga adalah bentuk perhatian khusus. Harapan gadis itu pasti melambung tinggi lagi. Berani taruhan, sesampainya di kantor gadis itu akan menulis sesuatu di twitternya mengenai hari yang cerah atau semacamnya. Erga yakin betul akan hal itu.
Ting!
Lift berhenti di lantai 15. Erga mempersilahkan gadis itu keluar dari lift terlebih dahulu. Ia menyusul di belakangnya.
Gadis itu memang luar biasa. Dengan sepatu heels setinggi itu, ia masih mampu berjalan cepat dan memperbesar jarak dirinya dengan Erga.
Erga ikut mempercepat langkahnya, berusaha menjajari langkah gadis itu. Ia tidak suka berada di belakang gadis itu, melihat punggung gadis itu yang menjauh dari pandangannya.
Ini sungguh aneh.
Erga semakin cepat berjalan, membuang jauh – jauh perasaan tidak enak yang mengganjal di hatinya itu.
*

Tidak ada apapun. Sudah mendekati jam makan siang, tapi gadis itu masih belum memposting apapun di halaman twitternya. Padahal, tadi Erga sudah bersikap baik pada gadis itu. Ia mempersilahkan gadis itu keluar dari lift terlebih dahulu, membantu gadis itu memungut kertas-kertasnya yang terjatuh, membela setiap pendapatnya, dan tersenyum setiap kali matanya beradu pandang dengan gadis itu.
Selama ini, Erga selalu melengos ketika gadis itu mencuri pandang ke arahnya. Ya, tentu saja ia tahu kalau gadis itu sering memperhatikannya. Sepanjang rapat tadi saja sudah lebih dari lima kali gadis itu menoleh ke arahnya.
Apa yang dilakukan gadis itu seusai rapat tadi? Meloncat kegirangan? Curhat panjang lebar kepada sahabatnya? Menulis cerpen tentang dirinya?
Yang jelas, gadis itu pasti menulis sesuatu di jejaring sosialnya. Erga memeriksa halaman facebook, path, instagram, dan blognya.
Nihil.
Mungkin gadis itu sibuk.
Ya, gadis itu pasti begitu sibuknya sampai tidak sempat memposting apapun.
Tapi, baru saja Erga akan menutup laptopnya untuk makan siang, wajah gadis itu muncul di timeline Path nya.
Foto yang diposting Fara itu memperlihatkan gadis itu sedang tersenyum, dengan tulisan dibawahnya : Semoga sukses di kantor baru. Gonna miss you :(

Saking kagetnya dengan postingan itu, Erga sampai menumpahkan air putih yang tergeletak dimejanya, membasahi kertas – kertas yang berserakan di atasnya.
Damn!
Kertas – kertas itu adalah hasil liputannya kemarin. Dengan kesal ia menyelamatkan kertas – kertas itu dan mengelap mejanya dengan tisu.

Sial. Semua ini gara – gara Shera Andini.

Gadis itu akan pindah kantor? Kenapa ia berhenti? Bukankah bekerja di Readbooks adalah impiannya? Lalu kenapa gadis itu tidak mengatakan apapun ketika mereka bertemu tadi pagi?

Dia tidak punya kewajiban apapun untuk melapor kepadamu, bodoh. Memangnya dia siapa?

Erga membuang tisu bekas mengelap meja dengan asal. Bukankah ini yang ia mau? Bukankah ia begitu membenci gadis itu, karena memendam perasaan kepadanya? Jika gadis itu pergi, maka ia tidak perlu terbebani lagi. Ini berita bagus bagi Erga. Sepeninggalan gadis itu, Erga bisa terbebas dari morning awkwardness yang selalu ia alami setiap bertemu gadis itu dalam lift.

Tidak lama kemudian, foto baru muncul. Kali ini milik Shera. Foto itu memperlihatkan sekumpulan majalah Aksara yang diletakkan dalam sebuah kotak berwarna ungu.

Semua majalah Aksara dengan sentuhan Shera Andini di dalamnya. Thanks a lot, Elang!

Nafas Erga memburu. Gadis itu lebih memilih memposting tentang Elang daripada dirinya? Setelah semua hal yang Erga lakukan tadi sepanjang rapat?
Untunglah gelas berisi air tadi sudah tumpah mejanya. Kalau tidak, bisa bisa air itu sudah ia siramkan ke handphone nya sekarang juga.


*
Kabar berhentinya Shera itu dari majalah Aksara menyebar dengan cepat. Besok, gadis itu resmi meninggalkan Readbooks. Semua sepakat akan membuat pesta perpisahan untuk gadis itu di restoran Chef Ruby yang letaknya tepat di sebelah gedung Readbooks malam ini.  Erga tidak ikut. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan tambahan yang diberikan bang Ramli kepadanya.
Ralat.
Ia terlalu sibuk dengan pekerjaan tambahan yang ia minta dari bang Ramli.
Erga memang mencari – cari alasan agar tidak perlu ikut pesta perpisahan gadis itu. Menurutnya, pesta perpisahan itu buang – buang waktu. Toh, gadis itu masih tetap berada di Jakarta. Lagipula, kecanggihan teknologi membuat manusia dapat berkomunikasi tanpa harus bertemu, ya kan?
Erga melihat jam tangannya. Sudah jam setengah dua belas malam. Pasti pesta itu sudah selesai. Kini ia bisa pulang dan beristirahat.
Erga berjalan santai menyusuri koridor. Di sana sini masih banyak karyawan Readbooks yang sibuk di depan komputer, mengejar deadline. Sesampainya di lift, Ia memencet angka 1 dan benda itu meluncur turun.
Ting!
Pintu lift terbuka. Pemandangan dua sosok manusia yang sedang berpegangan tangan membuat perut Erga mual seketika.
Elang dan Shera. Tangan Elang menyelusup dengan sempurna di sela – sela jari gadis itu, seakan – akan ia sudah terbiasa melakukannya.  Gadis itu juga tidak terlihat keberatan dengan sikap Elang.
“Erga?” ucap gadis itu, namun tidak melepaskan tangannya dari genggaman Elang.
Erga berusaha tersenyum. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras. Ia menahan diri untuk melakukan hal – hal yang tidak masuk akal.
Hal – hal tidak masuk akal .. seperti menonjok wajah Elang yang tersenyum bodoh di samping Shera.
“Tadi kenapa ga ke Chef Ruby?” tanya gadis itu. Matanya menatap Erga, namun tangannya masih bertengger di genggaman Elang.
“Deadline, Sher.” jawab Erga singkat. Ia balas menatap mata gadis itu. Kekecewaan tergambar jelas di mata kecoklatan tersebut.
Gadis itu ber-oh pelan. Bahkan Erga dapat menangkap rasa sedih dari oh-pelan milik gadis itu. Lagi – lagi, ego lelakinya melambung tinggi.  Elang mungkin bisa menggenggam tangan Shera, namun ia tidak bisa menggenggam hati gadis itu. Dalam hati, Erga menertawakan Elang yang hanya terpaku di tempatnya berdiri.
“Anak – anak udah pulang semua?”
“Belum. Beberapa masih nongkrong.” jawab Elang. Sepertinya ia menyadari ada yang tidak beres. Ia mengencangkan genggaman tangannya pada Shera. Yang digenggam sama sekali tidak berontak, membuat Erga semakin sulit menahan dirinya untuk tidak muntah.
Shera tidak seharusnya berpacaran dengan burung berkacamata ini. Ia benar – benar harus mencari pasangan lain yang lebih berbobot.
“Oh, gitu. Gue pulang dulu ya, Sher. ” ucap Erga. Lebih baik ia pulang daripada harus menonton gadis itu dan si burung berkacamata pamer kemesraan. “Oh iya. Semoga sukses di tempat yang baru.” Erga menepuk pundak gadis itu dengan lembut. Dan semoga cepat putus sama si burung berkacamata, ucap Erga dalam hati, berharap gadis itu dapat mendengarnya.
***
Silence.


‘I choose to love you in silence. 
Because in silence I find no rejection, and in silence no one owns you but me’

Quotes itu aku kutip dari postingan seorang teman. Saat membacanya, aku baru tersadar mengapa selama ini aku hanya mencintaimu diam – diam.
Selama satu tahun lebih, aku hanya melihatmu dari jauh. Dulu, melihatmu dari jauh saja sudah membuatku senang. Tapi manusia memang tidak pernah puas. Setelah mengenalmu, harapan itu muncul. Harapan yang kemudian aku hancurkan karena tidak mungkin terwujud.
Tidak, aku tidak berharap memilikimu. Sungguh lancang jika aku memiliki keinginan itu.
Harapanku, kamu tahu bahwa ada seorang gadis bernama Shera Andini yang tidak berhenti tersenyum ketika mendengar namamu disebut.
Aku memang gadis yang bodoh. Bagaimana mungkin kamu tahu, jika aku terus mencintaimu dalam diam?
Ah, tapi bukankah mencintai dalam diam itu adalah bentuk cinta yang bebas resiko? Jika aku memecah diamku dan kamu menolak, hatiku yang malang ini akan hancur seperti butiran atom. Bahkan meskipun aku tidak menunjukkan apapun seperti sekarang ini, kamu tetap menjaga jarak dariku, kan? Aku memang tidak seperti perempuan – perempuan lain yang pernah berada di hidupmu. Aku tidak secantik mereka, juga tidak anggun ataupun pintar seperti mereka. Aku mundur teratur. Berusaha lupa dan berhenti berharap.
Tapi, seberapa besarpun keinginanku untuk berhenti, semua itu luluh saat melihatmu tersenyum. Jadi, aku memutuskan untuk tetap mengamatimu dari jauh. Ikut berpetualang di Kalimantan melalui postingan blogmu, melihat kesenangan dirimu saat berlibur dengan teman – temanmu, mendengarkan lagu – lagu yang sering kamu putar, dan ikut tertawa membaca leluconmu. Biarlah aku hanya memiliki bagian dirimu yang kamu bagi untuk orang lain. Aku tidak peduli, karena dalam kesunyian yang aku ciptakan, kamu milikku seorang.

***
Tulisan itu diposting jam 2 pagi, namun Erga baru membacanya 6 jam kemudian. Tulisan berjudul silence itu sukses membuat perut Erga melilit karena senang.

Erga menarik nafas panjang. Ada begitu banyak pertanyaan mengenai Shera yang menyesaki pikiran Erga. Ia sudah lelah menebak – nebak jalan pikiran gadis itu lewat sikap diamnya. Kali ini, ia ingin Shera sendiri yang menjawab pertanyaan – pertanyaan itu, hanya kepadanya. Meskipun begitu, ia senang, karena gadis pemimpi itu tidak kehilangan harapannya. Karena jika gadis itu berhenti berharap, gadis itu secara tidak langsung juga menghancurkan harapan yang baru tumbuh di hati Erga.

Namun kesenangannya hanya sementara, karena Erga kembali teringat kejadian kemarin malam. Kejadian kemarin malam, apa artinya? Berarti tidak ada hubungan apa – apa kan antara gadis itu dengan si burung berkacamata? Jika tidak ada hubungan apa – apa, kenapa Elang dengan seenaknya memegang tangan gadis itu? 
Gadis itu juga salah. Kalau tidak ada hubungan apa - apa, kenapa dibiarkan saja Elang berbuat seperti itu? Bukankah jika diberi harapan seperti itu Elang akan jadi salah paham? Bisa saja Elang kepedean dan menganggap gadis itu sudah move on dari Erga.
Sial. Ia harus cepat bertindak. Kalau tidak, gadis itu keburu diambil si burung berkacamata.
Erga mengetik sesuatu di bagian komentar. 

ErgaPras :
Stop stalking me, talking to me instead.

-The End-

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts