Skip to main content

Cerita Cinta pakai Otak - Part 1

Aku menonton lelaki yang sedang menyanyi di atas panggung dengan penuh minat. Aku tahu lagu ini. Judulnya Crush, dinyanyikan oleh David Archuleta. Sesungguhnya, ini adalah lagu favoritku. Aku yang meminta Idan menyanyikan lagu ini.

Do you ever think
When you're all alone
All that we could be?
Where this thing could go?
Am I crazy or falling in love?
Is it real or just another crush?
Do you catch a breath
When I look at you?
Are you holding back
Like the way you do?
'Cause I'm trying, trying to walk away
But I know this crush ain't going away
Going away

"Awesome, like always~" ucapku sambil bertepuk tangan dengan semangat 45 setelah Idan selesai bernyanyi.
Idan tertawa kecil. "Thanks for coming." ucapnya tulus. Ia memamerkan senyum-lesung-pipitnya, membuat gadis - gadis dibelakang kami kehilangan akal sehat. Mereka sibuk berbisik dan saling sikut. 
"Nah, karena kamu udah baiiik banget mau nyanyiin lagu aku, aku kasih hadiah kabar gembira!"
Idan lagi - lagi tertawa. "Kabar gembira apa? Kulit manggis ada ekstraknya?" 
"Aish, sembarangan. Kabar gembiranya adalah .... bumbumbumbumbum..." aku memukul kecil meja kami, sengaja memberi efek agar lebih dramatis. Idan masih sabar menunggu, meskipun ia tidak bisa meyembunyikan tawanya.
"Sudah siap? Kabar gembiranya adalaaaaaaaaaaaaaaah ..... Ayu putus!!"
"WH-WHAT?" Teriak Aidan, kaget.
"Baru dua hari." ucapku bangga. 
Wajah Aidan langsung sumringah. Ya, aku tahu. Kabar Ayu putus mungkin adalah kabar yang paling ditunggu - tunggu oleh Aidan dan laki-laki lain yang mengenalnya. Ayu memang idaman. Cantik, pintar, dan sesuai namanya, ayu.
"Kok bisa?"
"Karena Awan terlalu posesif. Ayu tidak boleh kemana-mana, tidak boleh pergi sama siapa-siapa, dan tidak boleh bernafas tanpa seizin Awan"
Aidan mendengarkanku dengan serius. Keningnya berkerut dan membentuk lipatan yang cukup dalam, kebiasannya jika ia berpikir terlalu keras.
"Memang Awan sejahat itu?" tanya Aidan penasaran.
"Iya, Awan sejahat itu. Dan bodohnya, Ayu mau saja diperlakukan sejahat itu"
Kening Aidan masih berkerut. Mau tidak mau aku tertawa melihatnya. Apa sih yang dia pikirkan sampai seserius itu?
"Bukan Ayu saja yang putus. Tapi juga Dina, Karen, dan Mia. Akhirnya mereka sadar kalau hubungan yang tidak sehat cuma menghambat produktivitas." aku terus berbicara, membiarkan lipatan di kening Aidan semakin dalam saja. Ia menyeruput kopinya sambil tetap mendengarkanku.
"Being in a relationship is sucks, you know?" ucapku pada Idan.
Idan berhenti minum. Ia menatapku dengan serius dan berkata dengan nada agak marah, "Kamu punya pacar seganteng, sebaik, dan serasional aku, tapi kamu berani bilang begitu?"
*
Ide gila itu dilontarkan Idan satu bulan yang lalu. Saat itu kami sedang mencoba restoran baru didekat Readbooks, ketika tiba-tiba Reno menelepon dan mencecarku dengan 1001 macam pertanyaan yang menjengkelkan.
"Siapa?" tanya Idan setelah aku menutup telepon.
"Reno." jawabku singkat.
Sial. Telepon Reno benar-benar merusak selera makanku.
"Kenapa sih cowok itu terlalu posesif?" tanyaku kesal. Aku meletakkan sendok dan garpuku dengan asal.
"Karena cowok gamau apa yang dia punya diambil orang lain." Jawab Idan tanpa butuh berpikir. "Kenapa? Reno tipe pacar posesif? Memang kalian udah jadian berapa lama?"
"Pacar apanya. Kita belum ada hubungan apa-apa. Dianya aja geer. Belum apa-apa udah panggil sayang, udah ngelarang-larang. Memangnya aku ini siapanya? Anaknya?" aku terus menggerutu, menumpahkan semua kekesalanku pada Idan. Inilah yang kusukai dari pertemuanku dengan Idan. Aku bisa menceritakan apapun pada lelaki itu, terutama mengenai masalah seperti ini. Sudut pandang Idan selalu menarik untuk diketahui dibanding sudut pandang teman - teman perempuannya.
"Cowo memang begitu. Egonya besar."
"Tadi dia tanya. Lagi dimana? Sama siapa? Kamu kok pergi sama Idan terus? Pergi sama aku kapan? Dan bla bla bla. Annoyingly annoying."
Alih-alih menjawab, Idan malah sibuk mengunyah. Ia sudah menghabiskan spageti carbonara miliknya. Matanya menatap piring spagetiku yang masih sisa setengah piring.
"Coba pikir. Bahkan orangtuaku aja ga pernah nanya sebanyak itu. Terus kemarin dia larang aku rapat karena peserta rapatnya kebanyakan laki-laki. Sinting, kan?"
"Semua orang melakukan hal-hal bodoh ketika jatuh cinta, Mar. Itu wajar." ucap Idan singkat. Ia menunjuk piring spagetiku, memberi kode kalau ia ingin memakannya. Aku mengangguk pelan.
"Itulah sebabnya orang tidak seharusnya jatuh cinta pakai hati."
"Lantas harusnya jatuh cinta pakai apa?" tanya Idan dengan kening berkerut.
"Pakai ini," aku menunjuk kepalaku. "Otak lebih rasional daripada hati."
Idan menepuk jidatnya dengan frustasi. "Teori cinta seorang Mara Adinda memang selalu kontroversional! Mana bisa jatuh cinta pakai otak neeeeng?"
"Bisa!"
"Coba kasih contoh!"
Aku berpikir keras. Contoh ... hmm bagaimana contohnya? Ah ya!
"Kamu tau Gina?"
Idan mengangguk. Spagetiku sudah habis dilahapnya. Kini perhatiannya terpusat padaku.
"Dia menghabiskan setengah gajinya untuk membeli keset mobil pacarnya. Hasilnya dia makan nasi.dan kuah sayur dalam satu bulan.Itu, jatuh cinta pakai hati. Kalau jatuh cinta pakai otak, tentu Gina akan membelikan sesuatu yang lebih berguna dan murah meriah sehingga dia ga perlu menderita demi lelaki yang belum tentu jodohnya kan?"
Idan tersenyum tipis mendengar penjelasanku. "Benar juga. Waktu aku jadian sama Dea, uangku habis untuk beli bensin karena jadi ojek pribadinya. Kalau pakai otak, aku tidak mungkin melakukan itu, ya kan?"
Aku tersenyum menang. Memenangkan debat masalah percintaan sengan seorang Aidan Damitra adalah sesuatu yang membanggakan!
"Mau coba?" tanya Idan tiba-tiba.
Pertanyaan singkat itu sukses membuatku tersedak ice cappucino yang sedang kuminum.
"Ayo kita coba jatuh cinta pakai otak." Idan memperjelas pertanyaannya. "Kelihatannya asik."
Aku menelan ludah. "Dasar gila!" Aku menoyor kepalanya. "Itu nanti kalau aku sudah punya pacar." Ucapku sewot.
"Kenapa harus nanti? Coba dulu sini sama Aidan Damitra. Itung-itung latihan."
Kelihatannya Idan serius. Kerutan di keningnya menghilang, digantikan dengan senyum jenaka yang menghiasi bibirnya.
"Mara Adinda, jadi pacarku ya?"
*

Sejak saat itu, kami resmi 'berpacaran'. Lebih tepatnya, merasionalisasi semua kegiatan orang-orang yang berpacaran.
Karena kami menggunakan otak, maka kami tidak pernah saling mengabarkan jika tidak merasa perlu. Tidak perlu repot lapor keberadaan setiap waktu. Idan juga tidak perlu mengantar jemput, kecuali kebetulan ia manggung di sekitar kantor Readbooks.
Sore tadi, Idan menelepon dan memintaku menontonnya menyanyi di acara Readbooks.

Hey mak lampir!
Hari ini pacarmu yang ganteng mau manggung di Readbooks. Jangan lupa nonton oke?

Aku tertawa membaca teksnya. Idan memanggilku dengan nama Mak Lampir, julukan yang diberikan bawahanku di Aksara. Sesungguhnya aku harus memeriksa pekerjaan Fara dan Dian. Tapi sepertinya menonton Idan bisa mengurangi rasa penat setelah mengedit 36 artikel. Lagipula, aku punya kabar gembira untuk Idan : Ayu putus.
Ho ho.
Jangan kira aku pernah menganggap serius hubunganku dengan Idan. Tidak.
Lagipula aku tidak sabar ingin melihat wajah gembiranya saat mendengar berita tersebut. Tapi rupanya, reaksi Idan diluar ekspektasiku. Dia hanya bertanya,
"Kok bisa?" dan akhirnya aku malah membicarakan yang lain.
"Jadi ... apa langkah kamu selanjutnya?" Aku akhirnya bisa kembali fokus untuk menjodohkan Idan dengan Ayu. Ya, seseorang seperti Ayu memang lebih cocok dengan seseorang seperti Idan. Tidak merepotkan.
"Langkah apa?" tanya Idan bingung.
"Kok langkah apa? Langkah pedekate dong!"
Idan pura-pura membelalakkan matanya. "Seriously? Aku ini pacar kamu loh, Mar.."
"Drop the act, Idan. Plis deh, kalo kamu telat dikit, nanti keburu diambil orang!"
Tidak ada jawaban. Idan sibuk mengunyah cheesecake yang tadi kupesan. Setelah habis setengah, ia tertawa lemah. "Jadi menurutmu aku harus pdkt sama Ayu? Kamu serius?"
Mata coklatnya menatapku lekat-lekat. Aku balik menatapnya, tidak mau kalah. Kami saling melihat mata satu sama lain. Dua detim, empat detik, sepuluh det-
Aku menahan napas. Sesuatu di mata Idan menghantamku dengan keras.
Ada sesuatu disana, entah apa. Aku tidak tahu dan tidak akan pernah mau tahu.
Aku mengalihkan pandanganku ke panggung. Suara piano terdengar dari arah panggung, melantunkan lagu A thousand miles.

And I need you
And I miss you
And now I wonder....


"Kamu serius?" tanya Idan lagi, setengah berbisik.

If I could fall
Into the sky
Do you think time
Would pass me by
'Cause you know I'd walk
A thousand miles
If I could
Just see you
Tonight

"Seriburius, Idan."
***

Sejak saat itu, Idan rajin datang ke Readbooks. Ada saja yang dibawa. Hari ini kue coklat. Kemarin anggur. Kemarinnya lagi ia membawa sebuket mawar. Semuanya untuk Ayu. Tetapi, karena sudah tersebar gosip hubunganku dengan Idan, alhasil hadiah - hadiah tersebut nyangkut diruanganku. 
"Makanya kalau mau kirim - kirim dinamain dong." ucapku pada Idan sore itu. Aku melihat Idan dari atas ke bawah. Lelaki itu pasti habis keliling Jakarta lagi. Wajahnya kusam, rambutnya berantakan, kemejanya kusut. Bau matahari yang menyengat keluar dari seluruh tubuhnya.
"Please deh Idan, kamu bau banget" aku menutup hidung.
"Seriously?" Idan mencium bau badannya sendiri. "Biasa aja ah. Lagian aku bukan mau ketemu Ayu ini, tapi mau ajak mak Lampir jalan - jalan. Bau sedikit gapapa lah ya .. hehehe"
"Huu dasar" aku memukul lengan Idan. Ia terkekeh - kekeh.

 "Kenapa Dendro lengket banget sama cewek itu?"
Aku menunjuk sepasang manusia yang tidak terpisahkan sejak kami masuk tadi. Kami sedang mengunjungi pameran lukisan milik sepupu Idan yg bernama Dendro.
"Itu Ilona. Ceweknya Dendro." jawab Idan. Ia mencomot dua potong semangka sekaligus yang disediakan di atas meja. "Mereka sempet ldr 2 tahun. Wajar lah lengket. Udah lama ga ketemu."
Aku memperhatikan Dendro dan Ilona, dan sebuah pertanyaan kembali muncul di kepalaku.
"Buat apa menjaga komitmen dengan orang yang tidak ditemui selama dua tahun?"
Idan mengambil beberapa potong semangka, melon, serta pepaya dan meletakkannya di piring kecil. Matanya ikut mengamati Dendro dan Ilona, sementara mulutnya sibuk mengunyah. Untuk beberapa saat kami hanya terdiam dan memperhatikan sepasang manusia yang sedang dimabuk cinta itu. Kening Idan berkerut, pertanda bahwa ia juga menanyakan hal yang sama : mengapa harus susah susah mencintai orang yang tidak bisa ditemui dalam waktu lama?
"Kita bisa mencintai seseorang, tapi belum tentu bisa menjalin hubungan dengannya. Ketika kita menemukan seseorang yang kita cintai dan bisa berkomitmen sama orang itu, waktu dan jarak bukan lagi jadi masalah besar." ucap Idan.
Aku menatap Idan dengan kagum. Baru kali ini aku melihatnya sebijaksana itu. Idan memang lebih mengerti masalah seperti ini dibanding diriku, tapi jarang sekali ia bersikap bijak seperti ini.
Aku bertepuk tangan. "Aidan Damitra, kamu seharusnya jadi penyair!"
"Kamu harusnya bangga punya pacar multitalented kaya aku, Mar."
Aku mencibir. "Multitalented, terutama soal makan ya. Hahahahaaha!" Aku menyumpalkan sepotong besar semangka ke mulutnya.
*

Mak Lampir cantik, ayo kasih selamat buat pacarnya.
Aku dapet beasiswa sekolah musik di Vienna!!

Idan sedang mengaduk aduk jus alpukatnya ketika aku datang. Satu kata yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini : kusut.
Rambutnya kusut, kemejanya kusut, bahkan wajahnya pun terlihat kusut. Jauh sekali dengan kesan yang aku dapat dari teksnya.
Aku duduk dengan awas. Ia bahkan tidak tahu kalau aku sudah datang.
Aku menyentuh lengannya dengan hati-hati. "Idan, are you okay?"
"Kamu tau berapa ongkos dari Vienna ke Jakarta?" tanya Idan tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Kamu tau berapa jam yang harus ditempuh selama perjalanan?"
Aku menggeleng lagi.
BRUK!
Idan menggebrak pelan meja kami dengan kepalan tangannya.
"Wow. Easy, dan" Aku mencoba menenangkannya dengan mengusap pelan tangannya. Idan tampak terpaku memandangi tanganku yang menyentuh tangannya.
"By the way, selamat ya udah dapet beasiswa. You deserve it." Ucapku tulus. Ia tidak menjawab apa – apa. Tersenyum pun tidak.
"Kalau aku ke Vienna .. kita gimana?"
Aku mengangkat bahu. “It’s not even real. Kita cuma main – main.”
“Dua tahun itu lama, Mar.” gerutu Idan.
Entah apa yang salah dengan Idan hari ini. Lelaki itu seenaknya saja mengganti pembicaraan kesana dan kemari.
Hening. Idan masih sibuk mengaduk aduk jus alpukatnya.
Ada apa dengan Idan sih?
"Idan, are you ok-"
"Seharusnya kamu minta aku supaya nggak pergi, Mar."
Idan mengucapkannya dengan sangat pelan dan lirih. Aku bahkan tidak tahu apakah perkataannya ditujukan padaku atau pada dirinya sendiri.
"Tapi nggak apa-apa. Kita bisa seperti di film. Kamu nunggu aku, dan dalam beberapa tahun kita bertemu lagi." Idan berhenti untuk mengambil nafas, "dan saat kita bertemu lagi, kita akan lengket seperti Dendro dan Ilona. Dunia milik berdua. Yang lain cuma ngontrak." Idan berhenti lagi, kemudian tertawa terbahak - bahak.
Aku menghela nafas panjang.
Dasar Idan!
Kupikir ia serius memintaku untuk melarangnya pergi. Syukurlah ia cuma bercanda. Syukurlah ...
"I knew it! Aku tau kamu cuma bercanda! Ga mungkin seorang Idan rela membuang kesempatan emas ini hanya demi seorang pacar." Aku mengipas pipiku yg tadi sempat panas.
"I love you from the brain. Itu sebabnya aku tetap akan pergi meskipun kamu melarangku."
Aku mengedipkan mataku, mencoba menyingkirkan cairan bening misterius yang menggenang.
Air apa?
Air mata?
Aku menggelengkan kepalaku keras-keras. Tidak. Aku tidak punya alasan untuk menangis.
Idan akan pergi ke Vienna. Hidup disana selama 2 tahun.
2 tahun itu sama dengan 731 hari.
Jadi selama itu juga aku tidak akan bertemu Idan. Tidak ada lagi saran-saran ajaib, kata-kata mutiara, serta teks teks ajaib dari lelaki itu.
Bisakah?
"Mara Adinda, aku punya permintaan." Tiba-tiba saja Idan meraup kedua tanganku dalam genggamannya, dan menatapku dengan sungguh-sungguh.
"Apa?"
Idan mengambil nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya perlahan - lahan.
Tiga kali.
Ia mengulang hal tersebut sampai tiga kali, sebelum akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulutnya.
"Tunggu aku."
***
2 TAHUN KEMUDIAN

Aku merapatkan jaketku, menghalau udara pagi yang dingin menusuk. Jam masih menunjukkan jam 3 pagi. Sungguh tidak rasional.

Orang melakukan hal - hal yang tidak masuk akal ketika ia jatuh cinta

Aku membuka ponselku dan mengetik sesuatu di messenger.

Selama menjalin hubungan dengan Idan, tidak pernah sekalipun aku mengumbar kata-kata manis pada Idan.
Aku mendengus. Sesungguhnya, lelaki itu juga tidak pernah benar-benar mengumbar kata-kata manis untuknya kecuali 'I love you from the brain' yang selalu diberikannya di akhir teks.

To : IdanAidan
I miss you.
Sent.
***

Pesan itu diterimanya setibanya di Jakarta. Pesan yang tidak terduga dari orang yang tidak terduga.
“Menunggu itu sulit, Idan. Lebih sulit daripada melepaskan.”
Maka, Idan menuruti gadis itu.
Karena melepaskan terasa lebih mudah daripada harus menunggu sesuatu yang abstrak seperti hubungannya dengan gadis itu.

Idan berjalan dengan langkah terburu - buru menuju gadis itu. Kalau sudah seperti ini, siapa yang bisa disalahkan? Takdir? Waktu? Perasaan?

“Hey mak lampir. Apa kabar?” ucapnya ketika ia sudah berdiri di depan gadis itu.

Berbagai macam emosi tergambar di wajah gadis itu saat ia menampakkan diri. Senang. Terharu. Terkejut.

“Kenalin, ini Ve. Pacarku.”
Dan dunia gadis itu pun hancur seketika.


***

BERSAMBUNG

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts