HAI! Looooong time
no see, Mara Adinda! Mohon maaf selanjutnya karena cerita ini ngaret sampai 5
minggu. Kenapa terlambat? Karena (seperti biasa) cerita yang tadinya Cuma
mengalir dari otak ini ikutan juga mengalir dari hati. Nah. Repot kan?
Enjoy!
“Kenalin, ini Ve. Pacarku.”
Dan dunia gadis itu pun hancur seketika.
Oh, ralat.
Seharusnya seperti ini : dalam benak Idan, dunia gadis itu pun hancur seketika.
Apa yang terjadi selanjutnya sungguh berada diluar harapan Idan. Gadis itu seharusnya terkejut. Marah.
Kecewa. Cemburu. Tapi lihatlah! Senyum itu tetap mengembang di bibirnya, dan
matanya berbinar gembira melihat Ve.
Mara mengulurkan tangan mungilnya untuk bersalaman dengan Ve.
“Kenalin, aku Mara.”
Ve menyambut uluran tangan itu dan tersenyum sopan. “Ve.”
“Ve? Ve siapa? Vena? Velisia? Veni?” gadis itu bertanya Ve dengan
antusias. Ve tertawa kecil. “Velina.”
“Namamu bagus. Cantik. Coba bandingkan dengan namaku. Mara.
Tambahkan H, jadi Marah. Pantas saja aku hobi marah – marah. Hahahaha” Mara
tertawa sendiri. Ve hanya tertawa sopan sambil matanya menatap penuh arti
kepadaku. Aku tahu arti pandangan itu : Siapa
dia dan apa hubungannya denganmu, Dan?
Bagus. Bagaimana mungkin Idan bisa menceritakan kekacauan ini pada
Ve?
Ve berhak tahu. Mereka sudah empat tahun berpacaran dan ini
pertama kalinya ia menyembunyikan sesuatu pada Ve. Sesuatu yang bernama
perasaan. Perasaan yang seharusnya hanya ditujukan untuk Ve. Perasaan yang
tumbuh perlahan karena kebersamaan yang ia miliki dengan Mara Adinda. Perasaan
yang kemudian ia beri nama Cin-
Damn.
Idan menggelengkan kepalanya berkali - kali.
Bukan. Ini bukan cinta. Ia mengulang kata itu dalam
otaknya. Berkali – kali.
***
Ide itu terlontar begitu saja dari kepalanya. Ia dan Ve sedang
bertengkar hebat karena sudah genap 3 tahun ia tidak pernah bertemu lagi dengan
pacarnya itu. Secara tiba – tiba Mara Adinda dengan kepolosannya mengatakan
bahwa seharusnya seseorang itu mencintai dengan menggunakan otak, dan bukan
hati.
Saat itu Idan tertawa keras. Mana mungkin mencintai dengan
menggunakan otak? Tapi kemudian ia berpikir, tidak ada salahnya mencoba
mencintai dengan otak. Ia memperhatikan Mara yang sedang duduk di hadapannya
dan mulai membandingkan gadis itu dengan Ve yang saat ini berada di Vienna.
Mara Adinda bukanlah gadis biasa.
Gadis itu selalu kesulitan merasionalisasikan cinta. Menurutnya,
cinta adalah sesuatu yang tidak masuk akal.
"Orang yang jatuh cinta selalu menggunakan alasan cinta
ketika dia sedang tidak mau melaksanakan sesuatu."
"Hmm? Maksudnya?"
"Lihat artikel Ayu. Kacau. Berantakan. Ini bukan Ayu yang buat, tapi si-galau-Ayu. Heran, kenapa sih semua orang tidak bisa menggunakan kegalauannya untuk berprestasi lebih baik?"
"Lihat artikel Ayu. Kacau. Berantakan. Ini bukan Ayu yang buat, tapi si-galau-Ayu. Heran, kenapa sih semua orang tidak bisa menggunakan kegalauannya untuk berprestasi lebih baik?"
"Cinta itu masalah hati, Mar. Hati itu terhubung ke otak.
Jika hati sakit, otak pun terpengaruh."
"Really? Kalau begitu aku tidak mau kenal sama yang namanya
cinta. Bisa apa si cinta kalau aku kehilangan pekerjaan karena galau diputus
cinta? Hih."
“Mara
Adinda, jadi pacarku, ya?”
Mara mengerjapkan matanya berkali – kali. “Kamu
gila?”
Idan menggeleng. “Aku nggak gila. Aku rasional.
Mar, kamu ga liat aku? Aku ini calon pacar yang paling rasional. Karirku bagus.
Aku sudah punya kendaraan pribadi. Kita ga perlu merayakan acara anniversary
dan embel-embel lainnya. Kamu ga perlu beliin aku sesuatu yang menurutmu
terlalu mahal. Aku ga pernah larang kamu pulang jam berapapun. Aku –“
“STOP”
Idan berhenti bicara. “Aku gamau memulai sesuatu
dengan main-main” Ucap Mara singkat. Ia menatap Idan. Idan balik menatap Mara.
Selama lima tahun mengenal gadis itu, baru sekali Idan memperhatikan Mara dengan
seksama. Melihat bulu matanya yang lentik, melihat rambut – rambut kecilnya yang
bandel dan tidak mau rapi, dan melihat matanya yang bening kecoklatan.
Dan saat itulah, Idan merasakan itu. Sesuatu yang kemudian memerintahkan
mulutnya untuk berkata, “Aku nggak main-main. ”
Tidak adil. Begitulah yang berada di benak Idan
saat pesan gadis itu masuk ke handphonenya.
Apa hal terakhir yang dikatakan Mara kepadanya?
“Menunggu itu sulit. Lebih sulit daripada
melepaskan.”
Melepaskan. Melupakan. Tahukah gadis itu kalau Idan
menghabiskan seluruh waktunya di Vienna untuk melupakan? Tahukah gadis itu
kalau melupakan justru jauh lebih sulit daripada menunggu?
“Ve .. kamu jago nyanyi juga kaya Idan?” tanya
Mara.
Ve menggeleng. “Aku lebih suka melukis.”
Mereka bertiga masih berada di bandara, menunggu
jemputan Ve datang. Mara masih saja dengan semangat bertanya ini dan itu pada
Ve. Ve tampak risih. Kelihatannya ia mencium ada yang tidak beres antara Idan dan
Mara.
Idan masa bodoh. Terserah. Toh, hubungannya dengan
Ve tidak pernah seperti dulu lagi. Seperti sebelum Mara datang, lebih tepatnya.
Idan memperhatikan Mara dengan seksama. Berusaha
mencari tahu apa saja yang sudah berubah dari gadis itu selama ia pergi.
Rambut gadis itu kini pendek sebahu. Matanya yang
kecoklatan kini dibingkai oleh kacamata. Tubuhnya yang dulu berisi kini tampak
kurus dan lemah. Idan mengeryitkan keningnya.
“Kamu diet?” pertanyaan itu terlontar begitu saja
dari mulutnya. Ve tercengang mendengar pertanyaan yang menyiratkan perhatian
itu.
Ah. Sial. Sekarang Ve semakin terlihat curiga.
Mara menggeleng. “Diet alami sih iya. Kebanyakan
terjun lapangan.”
“Terjun ke lapangan? Kok gitu?”
Mara baru akan menjawab, ketika tiba – tiba Ve
menyela. “Jemputanku udah dateng. Pulang yuk.” Ve bangkit sambil menarik tangan
Idan. Gestur tubuhnya seakan – akan mengatakan bahwa Idan adalah miliknya.
Mara mengerti. Ia tersenyum samar. “Kalian duluan
aja. Aku masih nunggu temenku. Dia bilang pesawatnya datang jam 4.”
Idan melihatnya. Mata gadis itu tampak berkaca –
kaca. Bibir mungilnya bergetar. Idan tahu bahwa pesawat berikutnya akan
mendarat di bandara jam 6 pagi. Idan tersenyum pahit. Gadis itu tidak bisa
berbohong, sama seperti hatinya.
“Hey mak Lampir!”
Mara melonjak kaget melihat Idan ada di kantornya. Lebih
kaget lagi ketika lelaki itu tampak rapi dengan kemeja kotak – kotak yang
digulung hingga siku. Biasanya ia hanya mengenakan kaos oblong dengan warna
yang tidak jauh berbeda : coklat, biru donker, hitam. Titik. Lelaki itu
tersenyum jahil sambil menghampirinya. “Main yuk.”
Mara melotot. “Main? Kamu pikir aku punya waktu
buat main? Aku masih punya banyak kerjaan tau.”
Idan tampak kecewa, namun ia tidak putus asa. “I’ll wait!”
Dan .. lelaki itu benar – benar menunggu sampai
Mara selesai. Wajahnya tampak sumringah saat Mara selesai. Ia mengajak Mara ke
restoran Dendro yang baru buka.
“Hm. Pantes rapi. Tempatnya elit.”
Idan tersenyum. “You look like a panda. A
super tiny panda” ucapnya. Ia menunjuk lingkaran hitam dibawah mata Mara.
Kini giliran Mara yang tersenyum. “And why do you care, huh? You left me for a
really hot girlfriend.” Ucap Mara, yang diikuti dengan tawa. “Sejak kapan
kamu jadian sama Ve, hah? Kenapa ga cerita?”
Idan tidak menjawab. Ia teringat lagi kejadian di
bandara. Binar di mata gadis itu ketika ia datang, dan ketika Ve
menggandengnya. Lalu pesan yang gadis itu kirimkan. Ia tidak mungkin salah
mengartikan.
"Ada alasan?" tanya Idan. Mara tampak bingung.
"Hm?"
"Ada alasan kenapa kamu ngirim ini?"
Idan menunjukkan SMS yang diterimanya. Mara memekik pelan dan buru
- buru merebut handphone di tangan Idan.
"Ga ada alasan apa - apa. Aku kangen. Memangnya ga boleh? Aku
juga kangen kucingku di rumah. Aku bahkan kangen sama bu Nuri. Kamu tau, aku
sebar ini ke semua anggota keluargaku yang ada di Padang!"
"Kamu serius?"
Mara mengangguk. “Nih. Aku hapus. Selesai, kan? Kita lupakan ya? Pura – pura tidak
terjadi apa-apa.”
Idan menaikkan alisnya. Lagi? Gadis itu lagi – lagi
menyuruhnya untuk lupa?
Sial.
Tidak tahukah gadis itu bahwa usahanya untuk
melupakan gadis itu musnah seketika ketika melihat gadis itu menunggunya di
bandara?
Hanya sekali lihat, dan semua usahanya sia – sia.
Ia tahu gadis itu punya tembok pertahanan yang
kuat. Ia tahu gadis itu sudah terluka olehnya, dan ia yakin tembok pertahanan
gadis itu akan semakin tinggi lagi. Tapi ia tidak peduli. Ia masa bodoh dengan
hubungannya dengan Ve. Gadis berambut pendek didepannya itu sudah menghancur
leburkan apa yang sudah ia bangun di Vienna.
“Kamu tau Shera sama Erga?” tanya Idan.
Mara mengangguk. “Pasangan yang kisah cintanya
seperti di novel itu? Kenapa? Mereka putus?”
“Ya. Tidak. Maksudku, tidak, mereka tidak putus.
Kemarin Erga sendiri yang cerita kalau mereka ga pernah pacaran.”
Mara berhenti meminum oreo smoothiesnya. “Seriously? Tapi mereka ..”
“Mereka saling suka. Mereka tahu perasaan masing –
masing. Tapi mereka ga pernah mau mengucapkan kata itu ke satu sama lain.”
“Kata itu? Kata apa?”
“The L word.”
“Kenapa?”
“Mereka gamau kehilangan apa yang sudah mereka
punya sekarang.” Jawab Idan.
“Kenapa?” tanya Mara lagi. Idan memandang gadis di
hadapannya itu dengan gemas. Astaga. Berapa usia gadis itu sekarang? Apa iya ia
begitu tidak tahu soal cinta?
“Cinta itu kata tabu, Mar. Sekali kamu
mengatakannya, kamu ga akan bisa kembali.” Jawab Idan lamat – lamat. Sengaja,
agar gadis itu mengerti kemana arah pembicaraannya saat itu.
Idan menarik nafas dalam – dalam. Hari ini, ia akan
menghancurkan tembok pertahanan seorang Mara dalam sekali pukul. Ia menghitung
satu sampai tiga.
Satu ..
Dua ..
Tiga.
“Mara Adinda,
I think I love you. Not from the brain, but from my heart.”
***
Hening.
Butuh waktu lebih dari satu menit bagi Mara untuk
mencerna kata – kata Idan.
Mara
menggigit bibir bawahnya. “How
about Ve?” tanyanya lemah.
“You can ask
me to break up with her.” Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Idan.
Sepertinya ia sudah tidak punya kendali lagi atas apa yang ia katakan. Nasi
sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa mundur lagi.
“Will you do
it? If I ask you … will you?” gadis itu bertanya lagi. Kali ini matanya
menatap Idan sungguh-sungguh.
Boom!
Pertanyaan Mara menyadarkan Idan. Bagaimana jika
gadis itu memintanya untuk melepaskan Ve? Ia berpikir keras. Bisakah?
Ve yang selalu ada di sampingnya selama dua tahun
terakhir. Ve yang dulu pernah menjadi orang yang paling ia kagumi.
Demi gadis keras kepala di depannya … bisakah ia
melepas Ve?
Tiba – tiba Mara tertawa. “I’m kidding! Kamu gila?
Mana mungkin aku minta itu ..”
Idan menghela nafas, lega. “Kita lupakan apa yang
terjadi hari ini ya? Anggap tidak terjadi apa – apa.” ucap Mara. Ia mengaduk –
aduk oreo smoothies miliknya.
Idan mengepalkan tangannya kuat – kuat. Gadis itu
lagi – lagi memintanya untuk lupa.
“Cuma karena aku berhubungan dengan Ve, bukan
berarti kamu berhak menyuruhku untuk lupa kata yang kuucapkan tadi, Mar. I won’t forget it. I can’t. Kenapa aku
harus lupa?”
“Kenapa? Karena Ve. Memangnya ada alasan lain?” ucap Mara. Air
mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Saat ini ia kelihatan sangat lelah.
Jauh lebih lelah daripada saat ia harus mengejar deadline.
Idan bersorak dalam hati. Jika memang Ve adalah
satu – satunya alasan, maka ia tidak salah mengerti. Perasaannya tidak bertepuk
sebelah tangan.
Mara sepertinya melihat seringai di mata Idan. Ia
buru – buru meralat ucapannya. “Karena Ve. Dan karena aku ga punya perasaan
yang sama sepertimu” Bisik Mara. Ia
bangkit berdiri, kemudian pergi meninggalkan Idan.
Idan mengepalkan tangannya kuat – kuat, berusaha
untuk tidak mengejar Mara.
Damn!
***
Breaking news. Untuk yang ke 1000
kalinya, Ayu putus dengan Awan.
Dan untuk yang ke – 1001 kalinya, mereka balikan.
Mara menarik nafas panjang. Ia sungguh tidak
mengerti apa yang berada di benak sahabatnya itu.
“Sekali – kali gunakan otakmu, yu. Jangan keterusan
ngikutin hati.” Ucap Mara. Ayu cuma nyengir. “Kalau sudah cinta, mau apa lagi?”
“Cinta mulu. Kalo udah galau baru deh tuh cinta
disalah-salahin.”
Ayu tertawa. “Duileeeh sewot amat. Jangan kerja
terus Mar. Nanti cepet tua. Nonton Idan yuk dibawah.”
“Idan? Ogah. Gamau. Nonton sendiri aja sana.” Tolak
Mara. Sudah enam bulan berlalu sejak kejadian itu. Mara tidak siap bertemu Idan
sekarang. Tidak juga besok. Tidak bulan depan. Tidak selama-lamanya.
“Kenapa? Takut ketauan kalo sebenernya kamu cinta
mati sama dia? Hm? Kamu sadar ga sih, semenjak kamu ga ketemu sama Idan, kamu
kerja lebih lambat daripada sebelumnya.”
Mara tidak menjawab. Akhir – akhir ini pikirannya
memang tidak fokus. Semuanya gara – gara Aidan Damitra.
Sial.
Kini ia sudah berubah jadi gadis penggalau yang
tidak bisa kerja.
“Ayo makanya ketemu Idan. Biar semangat kerja lagi.”
rayu Ayu.
Mara menggeleng keras. “Gamau. Liat tuh aku
keliatan berantakan banget, yu..”
Ayu ngotot. Dengan segenap tenaga, ia menarik Mara
ke lobby. Memaksa gadis itu melihat lelaki yang sudah memporak – porandakan otak
dan hatinya… bersama Ve.
Mara mengutuk dirinya sendiri.
Tentu saja. Ve itu kan pacarnya, jadi wajar jika ia
menonton Idan bernyanyi.
I’d like to say we gave
it a try
I’d like to blame it all
on life
Maybe we just can’t right
That’s a lie, that’s a lie
Idan sedang bernyanyi dengan seorang perempuan
berkacamata.
Mara kenal lagu ini.
Sial.
Kenapa lagunya seperti ini sih?
“This songs
sucks.” Ucap Mara pada Ayu. Ayu terkekeh.
“Tersinggung ya bu?”
We can deny it as much as
we want
But in time our feelings
will show
Cuz sooner or later
We wonder why we gave up
The truth is everyone
knows
“Mara?”
Mara menoleh.
“Hai, Ve. Apa kabar?” tanya Mara.
Ve tersenyum. “Mara, aku punya berita penting ..”
***
Idan melihatnya. Gadis itu sedang berdiri dipojok bersama
Ayu. Rambut pendeknya kini sudah panjang kembali. Ia mengikatnya kebelakang.
Tubuhnya masih kelihatan kurus. Alih – alih melihat ke arah Idan, gadis itu
malah terlihat berbicara dengan Ve. Idan tertawa kecil. Pasti gadis itu mengira
Idan masih berhubungan dengan Ve. Tidak tahukah gadis itu bahwa ia telah
mengakhiri hubungan itu tiga bulan yang lalu?
“I love her.”
Ve tersenyum. “I know.
Memangnya aku buta?”
“Aku harus apa, Ve?”
“Kamu ga akan mengulang
kesalahan yang sama dua kali, Dan. Kamu ga akan melepaskan dia lagi, kan?”
“How about this?” Idan menunjukkan surat yang
baru diterimanya tadi sore. Surat penerimaan dirinya di sebuah sekolah musik di
Paris.
Selesai bernyanyi, Idan segera menghampiri gadis
itu. Nafasnya memburu. Jantungnya berdetak delapan kali lebih cepat. Gadis itu
tetap berada di tempatnya, tidak bergerak. Matanya mengawasi Idan yang sedang
berjalan ke arahnya.
Tik. Setetes air mata jatuh dari pelupuk mata gadis
itu ketika Idan berjarak selangkah dengannya.
Idan menarik nafas dalam – dalam, kemudian
mengeluarkannya perlahan – lahan. Lidahnya kelu. Begitu banyak yang harus ia katakan
pada gadis itu. Kabar putusnya hubungannya dengan Ve, dan beasiswa lainnya yang
ia terima. Mana yang harus ia katakan terlebih dahulu? Maukah gadis itu
menunggunya?
“Mara, aku –“
Kata – kata Idan terpotong oleh ucapan Mara. “Aku udah denger semuanya dari Ve.”
Idan menarik nafas lega. Syukurlah. Bebannya
berkurang hingga 70%. Kini, ia hanya perlu meminta gadis itu untuk menunggunya
lagi. Idan kembali menarik nafas dalam – dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia
baru saja membuka mulut ketika tiba – tiba gadis itu bersuara duluan.
“Aidan Damitra,” Mara berhenti sebentar. Ia
menghapus air mata yang tadi merayap di pipinya sebelum kemudian melanjutkan
kata - katanya “Aku berhenti memakai otak saat jatuh cinta. This time, I’ll wait.”
Dan sejuta kupu – kupu beterbangan di perut Idan.
***
Comments
Post a Comment