Skip to main content

Serena (1)


“Dia cuma teman” ucap Leni mantap.
“Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat.
“Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi.
Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?”
Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..”
“Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?”
Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.”
“Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api.
Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.”
“Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilakuin bareng-bareng? Ngedate bareng?” Rea melanjutkan, masih dengan nafas memburu.
“Apalagi katanya si Sere ini –“ kata-kata Rea terhenti karena mendengar isakan. Rea menoleh ke Leni, dan mendapati matanya sudah berkaca-kaca.
“Iya, Re. Gue paham Sere itu siapa .. dia muda, cantik, berbakat. Tipenya Putra banget” suara Leni bergetar saat mengucapkannya. Setetes air mata menyebrangi pipi polos yang biasanya dipoles blush on warna merah muda. Rambut Leni yang biasanya tampak rapi karena diblow, kini tampak diikat seadanya.

Melihat temannya tampak rapuh seperti itu, Rea seperti dijatuhi bom atom.

Ya Tuhaan, apa yang sudah Rea lakukan? Leni datang jauh – jauh untuk menceritakan keluh kesahnya. Tapi, bukannya memberinya dukungan moril, Rea malah membuatnya semakin sedih.
“Sori, Len. Gue keterlaluan ya?” ucapku lembut.
Leni mengangguk. “Gue kesini cuma butuh didengerin, Re. Gue butuh lo ada disamping gue…” dan dalam hitungan detik, Leni sudah membenamkan dirinya di pelukan Rea.
***

Hujan.
Rea menatap bayangan wajahnya yang terpantul di jendela. Tadi, sebelum pergi, Leni mengatakan bahwa ia seharusnya mencari pacar.

Rea menertawakan ide Leni.

Konyol.

Buat apa ia mempunyai pacar dan membahayakan ketentraman hatinya pada pria, makhluk abstrak yang hanya akan menyakitinya?

“Lo itu cantik, Re. Gue yakin banyak cowok yang ngantri mau jadi pacar lo”, ucap Leni lagi.
Iya, laki-laki hanyalah makhluk abstrak yang hanya melihat sesuatu dari bungkusnya saja. Karena itulah, ia tidak pernah repot berdandan agar diperhatikan laki-laki. Ia membingkai matanya dengan kacamata tebal, mengikat tinggi-tinggi rambut ikalnya yang menurut Leni sangat indah, dan hanya mengenakan kaus gombrong berwarna gelap.
Angin bertiup semakin kencang. Rea merapatkan sweater hitamnya, berusaha menghalau udara dingin yang menusuk tulang. Sudah lama sekali Rea menunggu kedatangan Serena, namun gadis itu belum juga muncul.

Sial.

Berapa lama lagi Rea harus menunggu?

Rea benci hujan. Sangat benci. Ia tidak ingin ada diluar ketika hujan datang.

Hujan mengingatkan Rea pada lelaki itu.

Lelaki yang sudah merebut hidupnya, meninggalkannya terluka begitu dalam.

***

Lelaki itu bernama Putra Adisubroto.
Serena bertemu dengannya ketika ia sedang menunggu untuk pemotretan di lobi gedung Readbooks. Lelaki yang mengalungkan kamera besar di lehernya itu mengulurkan tangannya ketika ia telah sampai di hadapan Serena.
“Putra.” Lelaki itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum ramah.
Serena terpesona.
Seumur hidupnya, belum pernah Serena bertemu dengan lelaki yang memiliki senyum seramah itu.
“Serena Abraham,” Selena balik memperkenalkan dirinya dan memasang senyum terbaiknya pada lelaki itu.
“Nah, Serena, udah dibriefing sama Mbak Agnes kan? Udah tau cara kerjanya?” tanya Putra.
Serena mengangguk.
“Oke. Yuk langsung ke studio”
***

Selesai pemotretan, ia mendatangi Serena yang sedang menunggu hujan berhenti di lobi.
“Ser, ngapain kamu nunggu disitu? Ga pulang?”
Serena menggeleng. “Ujannya gede banget, kak. Ga berani nembusnya”
“Yaudah bareng sama aku, yuk. Rumah kamu deket sini kan?” tanya Putra.

Eh?

Pulang bareng Putra Adisubroto?

Serena pasti gila jika melewatkannya begitu saja.

“Hmm .. boleh kak. Tapi ga ngerepotin?” tanya Serena malu – malu.
Putra tersenyum. “Yagaklah, malah enak aku jadi ada temen ngobrol di jalan. Yuk”
Ternyata, Putra adalah sosok yang menyenangkan untuk diajak bicara. Sepanjang perjalanan, obrolan mengalir dengan lancar diantara Serena dan Putra, meskipun usia mereka terpaut 7 tahun.
“Jadi, sudah berapa lama kamu terjun ke dunia modelling?”
“Baru sih, sejak aku lulus SMA”
Putra mengangguk angguk kecil. “Eh? Kamu baru lulus sma? Baru 18 tahun? Hebat, kecil-kecil penghasilannya udah gede. Hahahaha”
Serena ikut tertawa. “Ah, ka Putra bisa aja..”
“Kalo kak Putra, sejak kapan tertarik jadi fotografer?”
Putra tampak mengeryitkan keningnya, berpikir.
“Hmm .. sudah 10 tahun”
Serena berdecak kagum. “Wah … pantesan sekarang udah hebat banget”
“Hahaha jalanku jadi fotografer ga semudah jalan kamu, Ser. Buat beli kamera ini aja, aku harus kerja rodi dari pagi sampe malem ngebersihin toilet”
“Serius?”
“Sepuluh rius! Keluargaku ga sanggup beliin kamera. Katanya buang-buang duit. Aku disuruh jaga toko selepas SMA”
Saking kagumnya, Serena bertepuk tangan. “Hebat kak, hebat. Keren banget”
Tiba-tiba Putra tertawa terbahak-bahak.

He?

Serena bingung dibuatnya.

“Hahahahahahahaha aduh Ser, kamu polos banget sih. Aku bercanda. Nggak, aku gak pernah kerja bersihin toilet buat beli kamera …. ”
“Ih kak Putra kok gitu sih .. aku udah percaya banget padahal … hufft”
Putra masih tertawa. “Hahahahaahahahaha maaf ya Ser, aku ga tahan mau godain kamu. Kamu mirip banget sih sama pacar aku”

Boom.

Seperti ada bom atom yang dijatuhkan ke kepala Serena.

Pacar?
Jadi … Putra punya pacar?
***

Mendung.
Rea menutup tirai jendela kamarnya. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis sedang mamatut dirinya di depan cermin.
Serena sudah datang. Gadis itu tampaknya sudah tidak sabar ingin keluar dan menemui Putra.

Iya, Putra.

Putra yang sama dengan Putra yang diceritakan Leni tempo hari.

Rea menatap Serena dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat antusiasme gadis itu.
“Kamu gabisa deketin dia lagi, Ser. Putra itu pacarnya temanku” ucap Rea.
Serena membubuhkan bedak di wajahnya yang cantik. Rambut ikalnya yang tadinya diikat tinggi-tinggi ia biarkan tergerai. Ia membuka kacamata yang dikenakannya dan menggantinya dengan soft lense. Ia menatap cermin, mengagumi kecantikan dirinya. Oh, ya. Serena memang terlalu percaya diri dengan penampilannya. Gadis itu lebih tahu cara merawat diri daripada Rea.
“Baju apa sih ini? Kamu beli dimana? Out of date banget. Kamu kan tau, kulit kita ini cocok pake baju warna apa aja. Jangan dipakein baju item terus dong.” Serena mengomel tentang cara berpakaian Rea.
“Jangan ngalihin pembicaraan deh. Ser, denger yah, Leni sama Putra itu udah pacaran 4 tahun”
“So? Masalah buat aku?”
Stop it, S. Please.”
“Bukan aku yang harusnya kamu stop, tapi Putra. Dia yang deketin aku duluan, tau”
 “Damn it, kenapa sih cowok ga cukup dengan satu cewek?”
Pertanyaan itu terus menerus menyesaki kepala Rea, membuatnya bertanya-tanya. Jika saja lelaki itu tidak melakukan hal itu, tentu ia tidak akan berakhir seperti ini. Ia memandang pantulan Serena dari cermin. Gadis itu kini sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang menurutnya lebih fashionable.
“Jangan terlalu sewot sama cowok, Re. Baru tau rasa nanti kalo kamu ketemu cowok yang bikin kamu jungkir balik.”
Ah, Serena. Apa ia sudah lupa bahwa Rea pernah seperti itu? Jungkir balik karena seorang pria, menyerahkan semuanya demi seseorang yang kemudian membuangnya seperti sampah.
Serena menyemprotkan parfum beraroma vanilla keseluruh tubuhnya. “Udah ah, capek. Aku mau ngedate sama Putra. Jangan ngambek gitu ah, nanti aku balik cepet kok. Daaaah”
Dan Rea kembali hanya bisa pasrah, menunggu gadis itu kembali.
***

Rea sedang memeriksa laporan keuangan yang harus ia selesaikan sore ini ketika tiba-tiba Leni menerobos masuk ke ruangannya.
Entah kenapa, Rea punya firasat tidak enak atas kedatangan Leni hari ini.

Sial.

Jangan-jangan Serena berulah lagi. Rea mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa mengendalikan Serena.
I’ve met her” ucap Leni singkat.
“Mereka lagi makan bareng di Chef Ruby, Re. Lo tau kan? Itu tempat gue sama Putra jadian. Gue datengin, katanya mereka lagi ngomongin konsep pemotretan berikutnya.”
Rea menggigit bibir bawahnya. Leni bertemu Serena?
“Seperti yang lo bilang, Re. Dia cantik. Badannya bagus. Dia masih muda, ceria. Tapi anehnya, dia ngingetin gue sama seseorang, Re …”
Leni tidak menangis. Wajahnya tampak bingung, linglung. Akan tetapi, ia tetap melanjutkan ceritanya.
“Dia mirip banget sama seseorang yang gue kenal, Re. Orang yang sangat gue percaya. Orang yang selalu gue datengin setiap kali gue ada masalah sama Putra”

Tik, tok. Tik, tok.

Rea seperti sedang mendengar suara tiktok bom yang akan meledak.

Tik tok tik tok.
Tik tok tik tok

Dan ditengah suara tiktok itu, tiba – tiba terdengar suara Guntur yang cukup kencang.
Rea menengok ke jendela yang terbuka di kantornya.

Damn it!

“Dia mirip banget sama lo, Re. Mirip, persis. Siapa dia, Re? Lo kenal? “ tanya Leni lagi.
Hening yang cukup panjang mengisi ruangan kerja Rea.

Sunyi.

Sepi.

Hingga suara hujan mengisi kesunyian itu, membangunkan sesuatu dalam diri Rea. Sesuatu yang berusaha ia kendalikan, namun selalu muncul kembali saat hujan yang membawa kenangan itu datang.

Detik berikutnya, Rea menghilang.

Gadis di depan Leni membuka kacamatanya dan membuka ikatan rambutnya. Ia mengubah posisi duduknya yang kaku dan tersenyum dengan matanya yang cerah ceria.
Leni tampak linglung. Di depannya, tampak seorang gadis dengan aura yang berbeda dari Rea. Tapi … bagaimana mungkin?
Bagaimana bisa Rea bertransformasi penuh menjadi gadis yang telah merebut kebahagiaannya dengan Putra?
Gadis itu berdiri dari tempatnya dan mendatangi Leni. Ia mengulurkan tangannya dan berkata dengan suara yang jauh berbeda dengan suara Rea.
“Halo kak Leni. Kenalin, aku Serena”
***
BERSAMBUNG

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts