Skip to main content

Perpisahan*


Reisha Park merapatkan mantelnya, berusaha menahan dingin yang menusuk rusuknya
Menurut ramalan cuaca, suhu hari ini mencapai -2 derajat. Sialnya, Ia tidak membawa sarung tangan, topi, maupun syal. Ia masih tidak terbiasa dengan cuaca yang ekstrim seperti ini.
Reisha melongok ke jendela, melihat butiran salju yang turun sedikit demi sedikit, menutupi jalanan kota.
Ah, ia rindu kotanya yang hangat dan berlimpah sinar matahari.

Hangat.
Kapan terakhir kali ia merasa hangat?

Matanya awas memandang jendela di sebrang gedung apartemennya.
Lampu kamar tersebut padam, menandakan bahwa pemiliknya belum kembali.
Ah, Abimanyu Lesmana.
Kau pasti kembali menghabiskan malammu bersama perempuan itu kan?
Reisha menghela nafas panjang. Entah harus berapa ratus malam ia habiskan untuk menyadari bahwa laki - laki itu tidak lagi peduli padanya.

***

Jakarta, 4 Februari 2015

"Sudah cukup, Sha. Aku lelah dengan semua sandiwaramu"

"Dengerin aku dulu, bi. Please.."

Mata Reisha sudah berlinang air mata. Hatinya berdoa, meminta sedikit saja harapan agar laki-laki di depannya mau mendengar penjelasannya.
Abimanyu menyeka wajahnya yang merah padam, kemudian diam. Selama puluhan detik Raisha dapat mendengar nafas Abimanyu yang memburu.

"Oke. I'm listening."

Kemudian meluncurlah kata - kata itu : betapa Reisha sangat menginginkan perhatian Abimanyu, namun laki - laki itu begitu sibuk dengan semua pekerjaannya. Bahwa Reisha hanya menggunakan Adam untuk membuat Abimanyu cemburu, berharap laki-laki itu akan peduli.

"I care about you, Sha. I always do" ucap Abimanyu lirih. Untuk pertama kalinya, Reisha melihat laki-laki itu tampak begitu lelah. Abimanyu yang ia tahu, tidak akan terlihat lelah meskipun menghabiskan waktu 36 jam bekerja.

"But you never show it."

Reisha ingat betul bagaimana laki-laki itu melupakan hari ulangtahunnya. Masih terpatri kekecewaan di hatinya ketika laki-laki itu tidak pernah lagi mendengarkan cerita konyol Reisha  tentang teman - teman barunya di kantor.

"I don't need flowers or chocolate, Bi. I just need you to listen to me. To be there on my birthday. All you care about is your client.  I listen to your stories, your worries, even your anger. All you do is talk to me, but you never listen."

"You should've told me-"

"That's it. That's why you always do. Did you hear me earlier? Gosh. Abimanyu Lesmana, how many times I should told you? I said that you never listen to me! Every time I want to tell you things, you always said, I'm tired, babe. Can we do it later? It happens all the time, Bi. Have you realized that?"
Kini giliran nafas Reisha memburu. Sementara itu, Abimanyu bergeming di tempatnya.

"Oke, aku salah. But it doesn't gives you the right to go out with him. Tell me, sudah berapa lama kamu jalan bareng dengan dia? Satu tahun?"

"It's not serious, Bi. It's just a fling"

"A fling? it's still wrong for me"

"Kita cuma pergi beberapa kali. Itu pun kalau Sarah lagi gak di Jakarta. Kalau kamu sibuknya gabisa diganggu gugat. Aku butuh teman, Bi. Dan Adam ada disana, dia mendengarkan."

"Friends? Friends don't kiss, Sha."
"I never-" 
"Really, Sha? He gives you gift. He takes you on vacation. I know how men think. They won't give anything for free"

Reisha menggigit bibirnya. Cuaca diluar hangat, namun sikap dingin Abimanyu membuatnya menggigil.

"Kita sudahi saja ya Sha. Hubungan kita sudah gak sehat. Ini bukan kali pertama kamu selingkuh dengan Adam, Sha. Mungkin kamu memang lebih mencintai dia daripada aku. Usaha apa pun yang aku lakukan," Abimanyu berhenti, kemudian memandang cincin yang bertengger di jari manis Reisha, "Sekuat apapun aku mengikat kamu, kamu akan selalu kembali ke laki-laki itu"

Hening.

Tak lama kemudian, air mata jatuh di pelupuk mata Reisha. Air mata yang menandai perginya Abimanyu Lesmana dari hidupnya.

***

Reisha menutup jendela kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Ia naik ke atas tempat tidur, matanya terjaga memandang langit - langit.
Sudah tiga tahun ia menghabiskan hari tanpa Abimanyu. Awalnya, Reisha pikir ia akan mati. Tidak pernah terpikirkan bahwa ia akan bertahan selama ini tanpa laki - laki itu.

Abimanyu dan Reisha. Reisha dan Abimanyu. Kedua nama itu sudah melekat bersama selama lebih dari sembilan tahun. Selama sembilan tahun itu, mereka sudah melewati semua fase yang bisa diberikan kehidupan : pertemuan, kelahiran, kematian, dan perpisahan.

***

*Perpisahan adalah part 1 dari rangkaian kisah Reisha Park dan Abimanyu Lesmana.
Beautiful picture by :unsplash-logoRachel Lynette French 

Comments

Popular posts from this blog

Serena (1)

“Dia cuma teman” ucap Leni mantap. “Teman?” tanya Rea dengan alis diangkat. “Iya, teman kerja.” jawab Leni. Ia sudah tidak semantap tadi. Rea menggebrak mejanya dengan sedikit kesal. “Dan lo percaya gitu aja? Len, lo ga ngerasa kalo cowok lo terlalu sering cerita soal si Sere?” Leni menggeleng. “Hmm .. iya juga sih..” “Lo udah pernah ketemu sama si Sere Sere ini?” Leni menggeleng. “Gue Cuma denger ceritanya dari Putra doang. Si Sere ini tinggal sebatang kara, Re. Makanya Putra baik banget sama dia. Lo tau sendiri lah Putra gimana, orangnya ga tegaan.” “Putra itu tetep cowok, Len. Cowok tuh makhluk abstrak yang gak pernah tahan godaan. Apalagi si Sere ini katanya model. Model, Len. Model!” ucap Rea dengan berapi-api. Leni membelalakkan matanya. “Hus, udah ah Re, ga asik dibahas terus-terusan. Gue percaya kok sama Putra.” “Ga boleh, Len. Lo ga bisa percaya seratus persen sama Putra. Kali ini emang cuma makan bareng. Terus pulang bareng. Abis itu apa lagi yang dilak...

Elina

Namanya Ara. Teman sekamar yang baik. Sudah lama sekali ia menemaniku di kamar ini. Rambutnya panjang sebahu, kulitnya kuning langsat. Bola matanya berwarna coklat. Tingginya hampir menyaingi tinggiku. Setiap malam, dia duduk memandangiku. Sesekali dia akan menarik nafas dan menghembuskannya lagi. Pagi ini ia sudah siap dengan seragamnya yang baru. Bukan lagi kemeja putih dan rok biru, tetapi kemeja putih dan rok abu-abu. Ia tersenyum saat memandangku. Berkali-kali ia memutar tubuhnya, memastikan tidak ada yang akan merusak penampilannya hari itu. “Aku tidak bisa tidur untuk menunggu hari ini” ucapnya padaku. Aku tidak menjawab. Aku tahu kegelisahannya. Semalaman ia hanya duduk di depanku, sama sekali tidak menyentuh tempat tidurnya. “Aku bukan anak kecil lagi” tambahnya. Sekali lagi, aku tidak menanggapi perkataannya. Pikiranku menerawang ke pertemuan pertama kami. Aku berada di ruangan yang sesak oleh barang-barang usang. Debu tebal memenuhi seluruh tubuhku. Lalu Ara d...
Myspace Graphics and Myspace Layouts